96. Al-Mizan: Timbangan Keadilan yang Absolut
Bagaimana cara menimbang amal dengan presisi sempurna?
Pernahkah kamu merasa kalau keadilan di dunia ini sangat "berat sebelah"? Seringkali perbuatan baik kita yang kecil dianggap tidak ada harganya, sementara kesalahan kita yang kecil malah dibesar-besarkan.
Kita sering frustrasi dengan standar penilaian manusia yang tidak konsisten. Tapi tahukah kamu—dalam sistem hukum Allah nanti, akan ada instrumen penilai yang tingkat akurasinya sampai ke level "atom", tidak ada sedikit pun yang meleset? Inilah Al-Mizan.
Akurasi Tanpa Toleransi
Di hari Kiamat, seluruh amal kita akan dikonversi menjadi "bobot". Tidak hanya kuantitasnya, tapi kualitas (keikhlasan) dan dampaknya juga akan ditimbang. Allah SWT menjamin tidak akan ada satu pun makhluk yang dirugikan meski cuma seberat biji sawi.
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ
"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun Kami datangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan." (QS. Al-Anbiya: 47)
Saat timbangan itu dipasang, tidak ada gunanya lagi retorika atau status sosialmu. Hanya "berat" amalmu yang akan bicara.
Standar Nilai yang Berbeda
Sistem dunia cuma menghargai kita kalau kita punya "nilai guna" ekonomi. Kalau kita tidak produktif secara materi, kita dianggap tidak berharga. Mereka punya standar timbangan yang sangat materialistik.
Al-Mizan menampar standar nilai duniawi ini. Amal yang paling berat timbangannya di sisi Allah seringkali adalah hal-hal yang disepelekan manusia—seperti akhlak yang mulia dan kalimat Laa ilaha illallah yang diucapkan dengan ikhlas.
Menjadi Muslim berarti berani punya standar sukses yang berbeda.
Kualitas Menentukan Berat
Setiap niat yang mendasari amal kita akan menentukan seberapa berat amal itu. Barang siapa yang timbangan kebaikannya lebih berat, maka dia akan mendapat kehidupan yang memuaskan di surga.
Tapi barang siapa yang timbangannya ringan, maka tempat kembalinya adalah neraka.
Refleksi
Amal mana yang kira-kira paling berat yang sudah kamu lakukan?
Berhentilah jadi orang yang cuma sibuk mengerjakan hal-hal receh yang tidak ada bobot pahalanya. Perbanyaklah amalan yang paling disukai Allah—seperti menyebarkan kebaikan dan membina orang lain.
Ingat, satu menit kebaikanmu yang tulus bisa jadi lebih berat dari seluruh harta dunia saat ditimbang nanti.
Timbangan sudah dipasang dan hasilnya sudah keluar. Sekarang kita akan menghadapi ujian terakhir yang akan benar-benar menentukan—apakah kita cukup kuat untuk melintasi batas menuju keselamatan?