Skip to content

23. Nabi Salih AS: Saat Aturan Allah Diabaikan

Apakah kita cenderung mengabaikan batasan demi kenyamanan pribadi?


Pernah nggak sih kamu ngelihat orang yang udah dikasih tanda-tanda kebenaran tapi malah pura-pura nggak tahu? Atau orang yang udah dikasih aturan main yang sangat jelas tapi malah sengaja melanggarnya demi kenyamanan pribadi atau demi "bisnis"?

Itulah yang dilakukan oleh Kaum Thamud kepada Nabi Salih AS. Mereka dikasih mukjizat nyata berupa unta betina yang keluar dari bongkahan batu, tapi mereka justru mengkhianatinya.


Mukjizat & Aturan Main

Kaum Thamud adalah masyarakat yang sangat terampil dalam seni arsitektur dan pemahatan gunung. Karena kesombongan intelektual mereka, mereka minta bukti fisik yang mustahil, dan Allah kabulin lewat unta betina tersebut.

Syaratnya sangat simpel: biarkan unta itu makan di bumi Allah dan jangan diganggu. Ada pembagian waktu minum: satu hari buat unta, satu hari buat penduduk kota. Jangan curang.

وَيَا قَوْمِ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلُ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ

"Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat." (QS. Hud: 64)

Tapi apa yang mereka lakuin? Mereka justru menyembelih unta itu secara sadis. Kenapa? Karena unta itu jadi "gangguan" buat kenyamanan hidup mereka yang penuh maksiat dan ketidakadilan ekonomi.


Hedonisme & Penolakan Terhadap Syariat

Kaum Thamud adalah prototipe masyarakat hedonis yang punya bakat luar biasa dalam memahat gunung-gunung jadi istana yang indah, tapi hati mereka hampa secara spiritual. Mereka menganggap aturan Allah sebagai beban, sebagai hambatan bagi "kemajuan" dan "kebebasan" mereka.

Mereka lebih suka "membunuh" aturan yang bener daripada harus ngerubah gaya hidup mereka yang salah. Padahal kita hidup untuk mematuhi batasan yang Allah tetapkan, bukan malah melanggarnya demi ego dan kenyamanan kita.


Akhir dari Pembangkangan

Kehancuran Kaum Thamud jadi bukti nyata. Di Hari Kiamat nanti, Allah berfirman dalam Surah Al-Haqqah: 5 bahwa Kaum Thamud dihancurkan dengan suara yang sangat keras dan menggetarkan.

Selesai. Istana-istana mereka yang megah di gunung tetap utuh, tapi nggak ada lagi yang menghuninya. Itu adalah monumen bisu tentang betapa rapuhnya kemajuan materi tanpa ketaatan pada Sang Pencipta.


Refleksi

Jangan jadi orang yang "ngelunjak" sama nikmat Allah. Kalau kamu sudah tahu yang benar, jangan pernah cari-cari pembenaran buat melanggar hukum syara'. Patuhi batasan yang Allah berikan, karena di balik setiap larangan ada perlindungan bagi jiwamu.

Jadilah orang yang berani membela aturan Allah, bukan malah ikut-ikutan ngerusak batasan yang ada hanya karena "semua orang juga gitu". Kesetiaanmu pada aturan Allah adalah penentu keselamatanmu di dunia dan akhirat.


Kehancuran demi kehancuran terjadi karena kebodohan intelektual manusia. Tapi kemudian muncul sosok yang bakal ngelakuin revolusi pemikiran paling radikal dalam sejarah: seorang pemuda yang menolak beriman cuma karena tradisi nenek moyangnya.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam