Skip to content

68. Kaum Saba: State Collapse karena Ingkar Nikmat

Bagaimana menjaga nikmat agar tidak berubah menjadi bencana?


Pernah ngerasa negara kita itu kaya banget tapi kayak ada yang "salah" pengelolaannya?

Sumber daya alam melimpah, tanahnya subur, tapi rakyatnya nggak ngerasa tenang dan keadilannya nggak merata.

Kita sering lupa kalau ada variabel yang lebih penting dari ekonomi dan infrastruktur: yaitu Syukur (ketaatan kepada Pencipta).

Dulu, ada sebuah negeri super makmur bernama Saba yang punya sistem irigasi tercanggih, tapi akhirnya hancur lebur jadi negara gagal cuma gara-gara mereka berpaling dari kebenaran.


Negeri yang Diberkati

Kaum Saba punya segalanya.

Allah gambarin negeri mereka sebagai Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafur (Negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun).

Mereka punya ketahanan pangan yang luar biasa dan keamanan yang terjamin.

Allah cuma minta satu hal: Bersyukurlah dan taatlah kepada-Nya.

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): 'Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampur'." (QS. Saba: 15)


Sombong di Balik Kemakmuran

Pas sebuah bangsa dikasih kemakmuran, mereka harusnya makin taat.

Tapi kaum Saba malah sombong. Mereka ngerasa keberhasilan mereka itu murni karena kehebatan teknologi bendungan mereka.

Mereka mulai berpaling dari ajaran para nabi dan lebih milih gaya hidup hedonis.

Ini pelajaran: kita berasal dari Tuhan yang Maha Memberi, maka nggak logis kalau pas kita dapet nikmat, kita malah nge-blokir aturan Sang Pemberi.


Realitas Kemajuan tanpa Moral

Sistem dunia hari ini ngajarin kita kalau kemajuan bangsa itu cuma diukur dari PDB, gedung pencakar langit, dan kecanggihan teknologi.

Mereka ngilangin variabel ketuhanan dari kebijakan publik. Mereka pikir dengan ekonomi yang kuat, mereka bakal aman selamanya.

Hasilnya? Muncul "Negeri-Negeri Saba Modern" yang makmur secara materi tapi hancur secara moral, penuh depresi, dan di ambang kehancuran ekologis karena keserakahan mereka sendiri.

Kisah Saba nampar kesombongan peradaban kita.

Allah hancurkan kemakmuran mereka dengan Sailul Arim (Banjir Besar yang menghancurkan bendungan).

Kebun-kebun indah mereka berubah jadi pohon-pohon berduri yang pahit rasanya.

Negara yang tadinya jadi pusat peradaban berubah jadi puing-puing sejarah.

Tanpa hukum Allah, kemakmuran cuma bakal jadi "umpan" sebelum datangnya kehancuran yang tiba-tiba.


Akuntabilitas Peradaban

Setiap kebijakan negara yang mengabaikan hukum Allah akan membawa dampak buruk bagi rakyatnya di dunia dan akhirat.

Di hadapan Allah, sebuah bangsa akan ditanya: "Kemana kamu bawa nikmat yang Aku kasih? Kenapa kamu malah pake kemakmuranmu buat nindas agama-Ku?"

Kehancuran Saba adalah pelajaran abadi kalau nggak ada negara yang "Too Big to Fail" di hadapan murka Allah.


Refleksi

Jangan cuma bangga sama kekayaan alam bangsamu!

Jadilah manusia yang berkontribusi agar negerimu kembali ke jalan yang benar. Ingatkan para penguasa kalau kemakmuran tanpa ketaatan itu rapuh banget.

Jangan biarkan negerimu jadi "Saba Selanjutnya" yang cuma tinggal nama di buku sejarah.


Kaum Saba hancur karena ingkar. Sekarang, mari kita lihat ujian intelektual yang lebih gelap: Sihir, Dark Science, dan ujian pengetahuan lewat kisah Harut dan Marut.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam