45. Nabi Muhammad SAW di Makkah: Membangun Komunitas
Bagaimana mengubah dunia yang sudah terlanjur rusak?
Dari misi Nabi Isa AS yang mengingatkan kita akan keseimbangan material dan spiritual, kita tiba pada puncak kisah para nabi: lahirnya sang penutup, Nabi Muhammad SAW, yang membawa risalah terakhir untuk seluruh umat manusia.
Pernahkah kamu berpikir bagaimana caranya mengubah dunia yang sudah terlanjur rusak sistemnya? Bagaimana caranya melawan arus kebatilan yang sudah mendarah daging di masyarakat?
Kita sering merasa mustahil untuk melakukan perubahan besar. Kita merasa cuma butiran debu di depan raksasa kebatilan.
Tapi revolusi peradaban terbesar dalam sejarah manusia dimulai dari seorang pria di sebuah gua, yang tidak punya tentara, tidak punya harta melimpah, tapi punya satu hal: keimanan yang murni.
Fase Membangun Komunitas
Di Makkah, Nabi Muhammad SAW tidak langsung mengajak orang untuk berkonflik atau demonstrasi. Beliau fokus pada satu hal: memperbaiki akidah dan pembinaan kader.
Beliau mengumpulkan segelintir orang di rumah Arqam bin Abi Arqam untuk menanamkan pemikiran Islam secara mendalam. Beliau membentuk sebuah komunitas yang punya satu pola pikir dan satu pola sikap yang sama.
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah: 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (basirah), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik'." (QS. Yusuf: 108)
Nabi SAW sadar bahwa untuk meruntuhkan kebatilan, beliau butuh orang-orang yang mentalnya sudah "selesai" dengan urusan dunia. Orang-orang yang berdakwah berdasarkan ilmu dan keyakinan, bukan hanya semangat tanpa dasar.
Aktivisme Tanpa Dasar
Sistem dunia sering mengajak kita untuk menjadi "aktivis" yang cuma fokus sama isu-isu permukaan—seperti lingkungan, hak asasi, atau kemanusiaan—tanpa mau menyentuh akar masalahnya.
Mereka membuat gerakan yang "dangkal", yang gampang dipecah belah dan gampang disogok. Hasilnya? Perubahan yang terjadi cuma kosmetik, sistemnya tetap saja zalim.
Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa perubahan hakiki dimulai dari perombakan total cara berpikir masyarakat.
Beliau menyerang sistem kepercayaan jahiliyah secara terbuka di depan umum setelah kader-kadernya siap. Beliau tidak mau kompromi dengan sistem kebatilan meskipun ditawari harta, tahta, dan wanita.
Setiap kontribusi kita dalam gerakan dakwah akan menjadi saksi di hadapan Allah.
Di hadapan Allah, kita akan ditanya: "Apa yang kamu lakukan saat agama Allah dihina dan sistem Allah ditinggalkan? Apakah kamu cuma jadi penonton atau kamu ikut berjuang bareng barisan orang-orang baik?"
Pilihan kita untuk ikut dalam komunitas dakwah hari ini adalah penentu posisi kita di samping Rasulullah SAW nanti.
Refleksi
Jangan jadi orang yang "solo player". Cari barisan dakwah yang benar-benar punya visi penerapan kebaikan secara utuh.
Perdalam ilmu agamamu, perkuat keimananmu, dan jadilah kader yang militan tapi cerdas. Jangan gampang tergiur sama tawaran kompromi dari sistem yang ada.
Ingat, kemenangan itu butuh proses pembinaan yang sabar dan konsisten.
Fase Makkah sudah tuntas. Sekarang, mari kita lihat momen spektakuler saat Nabi Muhammad SAW memindahkan pusat kekuatan kebaikan ke Madinah dan membangun komunitas Islam yang pertama dengan sistem yang utuh.