35. Nabi Musa AS (Konfrontasi): Berdiri Tegak di Hadapan Kekuasaan
Pernahkah kamu merasa kecil saat berhadapan dengan seseorang yang punya kuasa lebih darimu?
Atasan yang bisa memutuskan masa depan karirmu, sistem yang terasa begitu besar hingga kamu merasa tak berdaya?
Kita sering merasa bahwa kebenaran itu lemah ketika berhadapan dengan kekuasaan — tapi kisah Musa AS menghadapi Fir'aun mengajarkan hal yang berbeda.
Kembali dengan Misi
Setelah bertahun-tahun di padang pasir Madyan, Musa AS dipanggil Allah untuk kembali ke Mesir.
Bukan sebagai buronan yang ketakutan, tapi sebagai utusan yang membawa pesan dari Sang Pencipta.
Bayangkan beratnya tugas ini: menghadapi penguasa yang pernah memburumu, yang punya pasukan, penjara, dan kekuasaan absolut.
Tapi Musa AS datang bukan dengan pasukan perang. Ia datang dengan sesuatu yang lebih kuat: kebenaran.
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۖ إِن كُنتُم مُّوقِنِينَ
"Fir'aun bertanya: 'Siapa Tuhan semesta alam itu?' Musa menjawab: 'Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian orang-orang yang meyakini.'" (QS. Asy-Syu'ara: 23-24)
Fir'aun bangga dengan sungai Nil dan kekuasaan Mesirnya. Tapi Musa AS mengarahkannya ke sesuatu yang jauh lebih besar: langit dan bumi yang mencakup segalanya.
Dalam satu kalimat, klaim ketuhanan Fir'aun hancur berantakan.
Kekuatan Kebenaran
Yang menakjubkan dari konfrontasi ini adalah bagaimana Musa AS berdiri tegak tanpa rasa takut yang terlihat.
Ia tidak membawa senjata, tapi ia membawa keyakinan yang kokoh. Ia tahu bahwa di balik Fir'aun yang mengaku Tuhan, ada Allah yang Maha Besar — dan keyakinan itulah yang membuatnya berani.
Ini bukan berarti Musa AS tidak merasa gentar. Tapi ia memilih untuk melangkah maju meski gentar.
Ia memilih untuk bicara meski suaranya mungkin bergetar. Karena pada akhirnya, kebenaran tidak butuh suara yang paling keras — ia hanya butuh orang yang berani menyatakannya.
Kebenaran dalam Kehidupan Sehari-hari
Kita mungkin tidak akan pernah menghadapi Fir'aun secara harfiah.
Tapi kita semua punya momen-momen di mana kita harus memilih: diam demi aman, atau bicara demi benar.
Mungkin di kantor, saat melihat ketidakadilan terjadi. Mungkin di lingkungan keluarga, saat kebenaran tidak populer. Mungkin pada diri sendiri, saat harus mengakui kesalahan.
Musa AS mengajarkan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan ketakutan, melainkan ketakutan yang dikalahkan oleh sesuatu yang lebih besar: keyakinan bahwa kebenaran itu berharga, meski mahal harganya.
Kamu tidak perlu langsung menghadapi "Fir'aun" terbesar dalam hidupmu hari ini.
Tapi mungkin, ada satu kebenaran kecil yang perlu kamu ucapkan. Ada satu ketidakadilan kecil yang perlu kamu tegur. Ada satu langkah kecil yang menunggu keberanianmu.
Konfrontasi dengan Fir'aun bukan perjuangan yang bisa Musa AS lakukan sendirian.
Dalam beban dakwah yang berat, ia membutuhkan seseorang yang menguatkan, seseorang yang mengerti. Mari kita lihat bagaimana Musa AS dan saudaranya, Harun AS, membangun tim solid untuk menghadapi tantangan yang begitu besar.