40. Nabi Sulaiman AS: Kekuasaan Global yang Bertanggung Jawab
Sejauh mana sebenarnya potensi kepemimpinan manusia?
Dari kepemimpinan rendah hati Nabi Dawud AS, kita beralih ke level berikutnya: kekuasaan yang mencakup seluruh spektrum kehidupan, dari politik hingga alam gaib.
Pernahkah kamu merasa umat Islam sekarang hanya jadi penonton di panggung dunia? Kita sering cuma bisa mengikuti aturan yang dibuat negara-negara besar, tanpa pengaruh yang berarti secara global. Banyak yang merasa mustahil untuk bisa memimpin peradaban lagi.
Tapi dalam sejarah manusia, pernah ada seorang pemimpin yang kekuasaannya mencakup seluruh dimensi—dari politik, militer, ekonomi, sampai teknologi yang luar biasa.
Kekuasaan Tanpa Tanding
Nabi Sulaiman AS berdoa kepada Allah untuk diberi kekuasaan yang tidak akan dimiliki siapapun setelah beliau. Dan Allah mengabulkannya.
Beliau bukan hanya memimpin manusia, tapi juga menundukkan jin, hewan, bahkan angin sebagai "kendaraan" operasional negaranya. Beliau punya akses ke sumber daya alam yang melimpah dan sistem intelijen yang sangat canggih melalui burung Hud-hud.
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَّا يَنبَغِي لِأَحَدٍ مِّن بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ
"Sulaiman berkata: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi'. Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya." (QS. Shad: 35-36)
Ini adalah level tertinggi dari kepemimpinan global. Sulaiman AS sadar bahwa kekuasaan politik harus digunakan untuk satu misi: menyebarkan kebaikan dan kebenaran ke seluruh penjuru bumi.
Teknologi dan Tanggung Jawab
Sistem dunia sering menggunakan teknologi dan kekuasaan militer untuk menjajah bangsa lain, merampas sumber daya alam, dan memaksakan budaya yang merusak. Mereka menggunakan pesawat tempur, drone, dan siber untuk membuat kekacauan demi keuntungan segelintir orang.
Nabi Sulaiman AS menunjukkan cara berbeda. Beliau membuktikan bahwa teknologi tercanggih sekalipun seharusnya membuat manusia makin bersyukur, bukan makin sombong.
Beliau tidak pernah menggunakan kekuasaan untuk berbuat zalim. Justru beliau berkata: "Ini adalah kurnia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau ingkar."
Kita seharusnya punya visi global, menguasai teknologi mutakhir, tapi tujuannya murni untuk kesejahteraan umat manusia secara adil.
Setiap jengkal tanah yang dikuasai dan setiap nyawa yang dipimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Nabi Sulaiman AS sangat teliti dalam mengurusi rakyatnya, bahkan semut pun beliau perhatikan agar tidak terinjak oleh pasukannya.
Kematian Sulaiman AS yang tetap berdiri bersandar pada tongkatnya adalah pelajaran bahwa di depan maut, semua kekuasaan duniawi tidak ada harganya selain ketaatan kita.
Refleksi
Buang mentalitas minder. Sebagai manusia yang mewarisi risalah para nabi, kita bisa punya cita-cita untuk memimpin dunia lagi.
Belajarlah dari Sulaiman: mintalah kekuasaan pada Allah dengan niat untuk kemuliaan umat manusia. Kuasai bahasa asing, kuasai teknologi informasi, kuasai ekonomi global.
Jadilah orang yang punya pengaruh besar, yang disegani kawan dan ditakuti lawan, tapi tetap sujud di hadapan Allah.
Kekuasaan Sulaiman sudah mendunia. Tapi bagaimana beliau mengelola birokrasi negaranya yang sangat kompleks dan melibatkan berbagai macam makhluk? Mari kita intip strategi tata kelola Sulaiman AS yang efisien itu.