Skip to content

14. Ekonomi Islam II: Zakat & Infaq: Instrumen Pemerataan Harta yang Hakiki

Bagaimana memastikan harta mengalir, bukan menumpuk?


Kalau kapitalisme punya cara buat numpuk harta, Islam punya cara buat memastikan harta itu selalu ngalir. Di dunia di mana segelintir orang menguasai kekayaan lebih besar daripada mayoritas penduduk bumi, Islam hadir dengan solusi yang sangat powerful: Zakat.

Seringkali kita cuma nganggep zakat itu ritual tahunan pas mau lebaran, atau cuma urusan kasih beras ke tetangga. Padahal, zakat adalah instrumen politik-ekonomi yang didesain buat menghancurkan kemiskinan dari akar-akarnya.


Bukan Sekadar Amal, Tapi Hak Milik Umat

Zakat itu bukan sekadar "sedekah sukarela" kalau lagi merasa baik hati atau dapet rezeki nomplok. Zakat adalah hak fakir miskin yang secara otomatis melekat di dalam harta orang-orang kaya.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَوَلَهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. At-Taubah: 103)

Perhatikan kata Khuz (Ambillah). Ini adalah perintah dari Allah kepada otoritas untuk mengambil zakat secara tegas jika ada orang kaya yang membangkang.

Kenapa begitu serius? Karena sirkulasi harta dalam Islam itu wajib seperti sirkulasi darah dalam tubuh manusia. Jika darah berhenti mengalir di otak, tubuh mati. Jika harta berhenti mengalir di segelintir elite, masyarakat akan hancur dan penuh ketegangan sosial.


Kegagalan "Trickle Down Economics"

Kapitalisme percaya pada mitos "Trickle Down Economics"—bahwa kalau si kaya makin kaya dan untung besar, nanti uangnya bakal "menetes" ke bawah lewat lapangan kerja dan investasi.

Faktanya? Uangnya nggak menetes sama sekali. Malah dipagerin tinggi-tinggi di tax haven atau diputar kembali dalam skema riba. Ketimpangan makin lebar, sementara retorika tentang "kesempatan sama" terus digaungkan.

Islam dengan Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf memastikan ada distribusi riil dari tangan yang kelebihan kepada tangan yang kekurangan. Bukan cuma sisa rezeki, tapi bagian yang hak bagi mereka.


Keadilan Distribusi

Zakat adalah cara Allah "membersihkan" harta kita. Harta yang belum dizakati adalah harta yang kotor dan akan menjadi beban berat saat kita bertemu dengan-Nya.

Di Hari Hisab nanti, setiap rupiah akan ditanya: "Dapetnya dari mana, dipakenya ke mana?" Bagian dari harta yang seharusnya menjadi hak fakir miskin tapi kita makan sendiri, itu akan menjadi pertanyaan yang berat.

Tapi di sisi lain, bayangkan kalau sistem zakat ini dikelola secara optimal. Tidak akan ada lagi kemiskinan ekstrem, tidak akan ada anak yang tidur kelaparan di atas tanah yang kaya raya.


Refleksi

Zakat bukan cuma ritual privat, tapi instrumen kekuatan umat. Ini adalah sistem yang memastikan tidak ada yang tertinggal terlalu jauh.

Jadi, jangan cuma jadi pembayar zakat yang pasif. Pahamilah bahwa ini adalah bagian dari sistem ekonomi yang lebih besar—sistem yang ingin memastikan keadilan bagi semua.

Harta pribadi sudah diatur distribusinya. Terus gimana soal tambang emas, sumur minyak, dan gas alam yang melimpah? Apakah boleh dimiliki individu atau korporasi? Mari kita bongkar aturannya.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam