87. Sakaratul Maut: Transisi Menuju Realitas yang Sebenarnya โ
Apa yang terjadi ketika napas terakhir tiba?
Pernah ngerasa kalau kematian itu adalah sesuatu yang "jauh" banget dari kamu? Kita sering mikir kalau yang bakal mati itu cuma orang tua, orang sakit, atau mereka yang sial. Kita ngerasa punya waktu yang masih sangat banyak buat bersenang-senang. Kita terjebak dalam jebakan Death Denialโpenyangkalan terhadap kematian. Tapi, tahukah kamu kalau setiap tarikan nafas kita sebenernya adalah hitung mundur menuju sebuah momen transisi yang paling jujur, di mana seluruh topeng dunia bakal dilepas dan kita bakal liat realitas yang sebenarnya? Itulah Sakaratul Maut, pintu masuk menuju keabadian.
Detik-Detik Kejujuran (The Unveiling) โ
Sakaratul Maut adalah momen saat ruh mulai dicabut dari tubuh. Di saat itu, Allah bakal buka tabir penutup mata kita. Kita bakal liat malaikat, kita bakal liat catatan amal kita, dan kita bakal liat tujuan akhir kita (Surga atau Neraka).
ูููููุฏู ูููุชู ููู ุบูููููุฉู ู ูููู ูููฐุฐูุง ููููุดูููููุง ุนูููู ุบูุทูุงุกููู ููุจูุตูุฑููู ุงููููููู ู ุญูุฏููุฏู g.9,024.04 "Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (penglihatan)mu dan penglihatanmu pada hari itu amat tajam." (QS. Qaf: 22)
Pas kamu lagi sehat, kamu mungkin bisa bohongin diri sendiri kalau Tuhan itu nggak ada atau Syariat itu nggak penting. Tapi pas Sakaratul Maut, penglihatanmu jadi Hadid (sangat tajam/tembus). Kamu nggak bisa lagi menghindar dari kebenaran. Kita sedang menuju pertemuan dengan Khaliq, dan maut adalah gerbang pertemuannya.
Real Talk: Sekularisme & Budaya "Lupa Mati" โ
Sistem dunia hari ini (Sekular-Kapitalis) pengen kita sebisa mungkin "lupa" sama kematian. Mereka nyiptain industri hiburan, skincare anti-aging, dan teknologi medis yang seolah-olah bisa bikin kita abadi. Kenapa? Biar kita tetep jadi konsumen yang rakus. Orang yang inget mati biasanya bakal ngerem konsumsi dunianya dan fokus pada pengabdian. Bagi sistem sekarang, "inget mati" itu dianggap sebagai pemikiran yang suram atau merugikan pertumbuhan ekonomi. Hasilnya? Banyak orang yang "kaget" dan nggak siap pas maut tiba-tiba dateng nge-jemput.
Menjadi muslim berarti harus punya Mentalitas Siaga. Kita bukan takut mati, tapi kita Mempersiapkan Mati. Kita harus sadar kalau kematian bisa dateng kapan ajaโbisa pas lagi dakwah, bisa pas lagi tidur, atau bisa pas lagi di jalan. Kesadaran akan maut bikin kita jadi pemuda yang nggak gampang nunda-nunda amal sholeh. Kita nggak mau mati dalam keadaan lagi maksiat atau lagi ngebela sistem thaghut. Kita pengen akhir hayat yang Husnul Khotimahโmeninggal di atas ketaatan dan perjuangan Islam.
Akuntabilitas Nafas โ
Setiap nafas yang kita gunain di dunia akan ditanya nilai ketaatannya. Kita hidup buat nyiapin momen sakaratul maut yang indah. Bagi mukmin yang berjuang, sakaratul maut adalah saat yang dinanti-nanti buat ketemu Sang Kekasih. Tapi bagi para pembangkang, sakaratul maut adalah awal dari siksaan yang nggak ada habisnya. Maut bukan akhir, tapi awal dari petualangan yang sesungguhnya.
๐ก Refleksi untuk Diri: Tanya dirimu: "Kalau gue mati menit ini, apa gue sudah siap?". Berhentilah jadi pemuda yang cuma mikirin urusan dunia yang fana! Belajarlah buat selalu nyiapin "koper" amalmu tiap hari. Jadikan setiap harimu sebagai hari terakhirmu di dunia. Dakwahlah seolah-olah besok kamu mati. Sholatlah seolah-olah itu sholat terakhirmu. Jangan biarkan dunia ngerampok fokusmu dari gerbang transisi ini. Live wisely, die gloriously.
Sakaratul maut sudah dilewati. Sekarang, bayangkan saat kita sudah berhasil melewati semua ujian dan maut datang dengan indah. Ada sebuah tempat yang sudah menungguโtempat di mana semua lelah dan capek kita akan terbayar lunas dengan kenikmatan yang tak terbayangkan.