16. Sistem Sosial: Pure Interaction: Menjaga Marwah Pria & Wanita
Bagaimana seharusnya interaksi antar manusia di ruang publik?
Kita hidup di zaman yang katanya "bebas". Teman tapi mesra, hubungan tanpa status, sampai normalisasi zina jadi hal biasa di media sosial dan percakapan sehari-hari. Katanya, itu atas nama hak asasi, ekspresi diri, dan progresivitas.
Tapi kenapa malah makin banyak kasus depresi, pelecehan seksual, hancurnya institusi keluarga, sampai anak-anak yang lahir tanpa tahu siapa ayahnya? Mungkin ada yang salah dengan cara kita memahami "kebebasan" ini.
Pemisahan yang Menjaga (The Infishal Principle)
Prinsip dasar dalam Islam adalah kehidupan pria dan wanita terpisah, kecuali dalam urusan yang diperbolehkan syara' seperti pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan ibadah. Islam ingin kita berinteraksi secara manusiawi dan profesional, bukan secara seksual di ruang publik.
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat'." (QS. An-Nur: 30)
Islam bukan melarang cinta, tapi Islam ingin cinta itu suci, bukan murahan. Menutup aurat bagi wanita, menahan pandangan bagi pria, dan larangan berduaan tanpa keperluan syar'i adalah "firewall" untuk melindungi kehormatan kita.
Eksploitasi Wanita atas Nama "Freedom"
Liberalisme bilang wanita bebas kalau dia bisa pamer tubuh dan bergaul bebas. Faktanya? Wanita malah jadi komoditas iklan, objek pemuas mata di media sosial, dan terjebak dalam standar kecantikan materialistik yang menyiksa batin.
Mereka dipaksa untuk "bersaing" secara fisik demi mendapatkan validasi dunia. Padahal nilai seorang wanita jauh lebih tinggi dari sekadar penampilan fisiknya.
Islam melihat wanita sebagai kehormatan yang harus dijaga dan dimuliakan. Kita hidup untuk membangun peradaban yang beradab, bukan masyarakat yang cuma mikirin urusan syahwat dan penampilan fisik.
Akuntabilitas Interaksi
Setiap pesan pribadi yang tidak perlu, setiap chat yang berlebihan, sampai setiap tatapan yang kita lemparkan akan ditanya pertanggungjawabannya. Di Hari Pembalasan nanti, setiap anggota tubuh kita akan bersaksi tentang apa yang mereka lakukan di dunia.
Kesucian yang kita jaga hari ini adalah investasi untuk kemuliaan kita di hadapan Allah kelak. Sebaliknya, setiap pelanggaran batas adalah beban yang akan kita bawa.
Refleksi
Jangan bangga jadi playboy atau bangga menarik perhatian lawan jenis lewat cara-cara yang dilarang syara'. Standar keren kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga kemuliaan diri.
Batasi interaksi yang tidak perlu, fokus pada pengembangan diri dan kontribusi untuk umat. Keluarga yang kuat hanya lahir dari individu-individu yang tahu cara menjaga kesucian diri dan kehormatan orang lain.
Masyarakat sudah beradab sistemnya. Terus gimana cara mencetak generasi yang tangguh dan berkarakter? Sistem pendidikan Islam adalah kunci utamanya.