50. Kritik Demokrasi: Kedaulatan yang Semu
Apakah suara mayoritas selalu benar?
Dari kritik terhadap kebebasan individu yang kebablasan, kita beralih ke sistem politik yang mengklaim memberikan kedaulatan kepada rakyat.
Pernahkah kamu merasa kalau suaramu di kotak suara itu sebenarnya tidak mengubah apa-apa? Tiap beberapa tahun kita datang ke TPS, milih calon yang janji manis, tapi pas sudah menjabat, kebijakannya tetap saja tidak mihak rakyat.
Kita diajarkan kalau Demokrasi adalah sistem terbaik yang pernah ada, di mana rakyat memegang kedaulatan penuh.
Tapi, benarkah rakyat yang berdaulat? Atau rakyat cuma dikasih ilusi kalau mereka punya kuasa?
Kedaulatan Milik Siapa?
Prinsip dasar Demokrasi adalah "Vox Populi Vox Dei" (Suara Rakyat adalah Suara Tuhan). Artinya, manusia berhak bikin hukum sendiri lewat mekanisme suara terbanyak.
Masalahnya, suara terbanyak tidak otomatis berarti benar.
Al-Quran sudah mengingatkan tentang bahaya ngikutin mayoritas yang tidak punya dasar ilmu.
وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta." (QS. Al-An'am: 116)
Inilah esensi dari kedaulatan yang semu. Ketika kita bilang manusia punya hak buat bikin hukum, kita sebenarnya lagi melakukan "kudeta" terhadap otoritas Allah.
Oligarki di Balik Jubah Demokrasi
Demokrasi hari ini adalah sistem yang sangat mahal. Buat jadi pemimpin, orang butuh dana kampanye triliunan. Dari mana duitnya? Dari para pemodal.
Begitu menjabat, UU yang dibuat pasti menguntungin para pemodal tadi sebagai "balas budi". Hasilnya? UU yang merusak alam disahkan, UU yang menindas buruh dikebut, tapi aturan yang adil dibilang radikal.
Rakyat cuma jadi "stempel" legalitas bagi kepentingan segelintir elite.
Pertanggungjawaban Politik
Setiap UU yang dibuat dan didukung oleh manusia akan dimintai pertanggungjawabannya.
Di hadapan Allah, para pembuat hukum yang menghalalkan apa yang Allah haramkan akan berdiri dalam posisi yang sangat berat.
Keselamatan kita di akhirat tergantung pada sejauh mana kita berpegang pada hukum Allah dalam mengatur urusan publik.
Refleksi
Jangan mau jadi "mesin suara" yang gampang dimanipulasi tiap pemilu.
Pahami bahwa masalah bangsa kita bukan cuma soal gonta-ganti orang, tapi soal sistem yang memang sudah cacat dari akarnya.
Jadilah pribadi yang melek politik. Perjuangkan agar kedaulatan kembali ke tangan aturan yang lebih tinggi.
Politik sudah kita bedah. Sekarang, mari kita lihat bagaimana "Nasionalisme" seringkali jadi sekat yang memecah belah persatuan umat Islam sedunia.