Skip to content

36. Nabi Musa dan Harun AS: Kekuatan dalam Kekompakan

Pernahkah kamu merasa begitu lelah dalam menjalankan sesuatu yang penting bagimu?


Seperti memikul beban sendirian, tanpa ada yang benar-benar mengerti apa yang kamu rasakan?

Dalam dunia yang sering memuja "sang pahlawan tunggal", kita lupa bahwa perubahan sejati hampir selalu terjadi bersama-sama.

Musa AS, nabi dengan mukjizat membelah laut, juga merasakan beban yang sama. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa — dan tidak perlu — melakukannya sendirian.


Memohon Rekan, Bukan Tentara

Ketika Allah memerintahkan Musa AS untuk menghadapi Fir'aun, permintaan pertama Musa bukanlah pasukan atau senjata.

Permintaannya sederhana: seorang saudara yang bisa bersamanya.

وَاجْعَل لِّي وَزِيرًا مِّنْ أَهْلِي ۝ هَارُونَ أَخِي ۝ اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي ۝ وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

"... Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia berserikat dalam urusanku." (QS. Thaha: 29-32)

Perhatikan kata-katanya: "teguhkanlah dengan dia kekuatanku" dan "jadikan dia berserikat dalam urusanku."

Musa AS sadar bahwa kekuatan bukan hanya soal kemampuan individu, tapi juga soal dukungan. Ia butuh seseorang yang bisa menguatkan ketika ia lemah, yang bisa bicara ketika ia terbata-bata, yang bisa ada di sampingnya ketika jalan terasa sepi.

Harun AS datang dengan karakter yang melengkapi: ia fasih berbicara, sementara Musa lebih tegas dalam tindakan.

Bersama, mereka bukan hanya dua orang — mereka menjadi tim yang utuh.


Mengapa Kita Butuh Orang Lain?

Dalam budaya yang sering menyuarakan "aku bisa sendiri", kisah ini mengingatkan kita bahwa membutuhkan orang lain bukanlah kelemahan.

Justru sebaliknya — mengakui bahwa kita butuh bantuan adalah bentuk kekuatan.

Musa AS bukan nabi yang lemah. Ia punya mukjizat, ia punya keberanian, ia punya dukungan langsung dari Allah.

Tapi tetap saja, ia meminta seorang saudara untuk bersamanya. Karena pada akhirnya, kita adalah makhluk sosial yang diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk bersaing dalam kesendirian.


Membangun Kekompakan

Kekompakan tidak terjadi begitu saja.

Ia dibangun dari kepercayaan, saling pengertian, dan kesediaan untuk menyingkirkan ego demi tujuan yang lebih besar.

Musa dan Harun tidak saling iri; mereka saling mendukung. Mereka tidak saling menyalahkan; mereka saling menguatkan.

Begitu pula dalam hidup kita.

Temukan orang-orang yang sejalan dengan nilai-nilaimu. Bangun hubungan yang didasari kepercayaan dan saling pengertian.

Dan ketika kamu menemukannya, jagalah dengan baik — karena orang-orang seperti itu adalah karunia yang langka.

Siapa yang ada di sampingmu saat ini? Siapa yang bisa kamu hubungi ketika dunia terasa berat? Dan apakah kamu sudah menjadi orang seperti itu bagi orang lain?


Musa dan Harun sudah menjadi tim yang solid.

Tapi perjalanan Musa AS belum selesai mengajarkan pelajaran. Ada sesuatu yang lebih dalam tentang cara Allah bekerja — sesuatu yang tidak bisa dipahami hanya dengan logika. Mari kita ikuti perjalanan Musa AS mencari guru misterius bernama Khidir AS.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam