Skip to content

62. Ashabul Kahfi: Bertahan di Tengah Sistem yang Rusak

Bagaimana bertahan di tengah sistem yang memaksa berbuat salah?


Pernah ngerasa terjebak di lingkungan yang maksa kamu buat ngakuin sesuatu yang kamu tahu salah?

Di mana aturan sekitar konflik sama keyakinanmu. Kamu ngerasa nggak berdaya dan pengen lari aja dari situasi itu.

Ribuan tahun lalu, ada sekelompok pemuda yang punya masa depan cerah di kerajaan mereka, tapi milih buat ninggalin semua demi jaga satu hal: iman mereka.


Hijrah sebagai Benteng Akidah

Ashabul Kahfi adalah pemuda yang hidup di bawah kekuasaan raja zhalim yang maksa rakyatnya buat nyembah berhala.

Mereka berani bilang "TIDAK" di depan raja. Pas mereka tahu bakal dibunuh, mereka milih buat Hijrah ke sebuah gua yang sempit.

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: 'Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)'." (QS. Al-Kahfi: 10)


Loyalitas Tanpa Kompromi

Mereka nggak milih buat "kompromi" atau "cari aman" di tengah sistem yang rusak.

Mereka milih buat memisahkan diri demi menjaga kesucian iman. Allah kemudian bikin mereka tertidur selama 309 tahun.

Ini ngasih pelajaran: kita hidup buat menjaga loyalitas kepada Allah, meskipun itu artinya kita harus "asing" dari masyarakat yang sedang gila kemaksiatan.

Akidah itu harga mati, nggak bisa dinegosiasikan.


Realitas Tekanan Buat "Ikut-ikutan"

Sistem dunia hari ini seringkali maksa kita buat ngikutin norma yang bertentangan sama nilai kita, mulai dari gaya hidup, sampai pemikiran yang ngerendahin keagamaan.

Normalisasi kemaksiatan ini adalah bentuk tekanan baru, di mana kita dipaksa buat mendahulukan aturan manusia di atas keyakinan.

Kisah Ashabul Kahfi membuktikan kalau Allah bakal "menambah petunjuk" buat orang yang berani berdiri tegak di atas kebenaran.

Jangan takut kehilangan masa depan gara-gara kamu milih buat istiqamah. Masa depanmu ada di tangan Allah, bukan di tangan sistem yang zhalim.

Kita butuh "gua" akidah buat ngejaga kejernihan berpikir kita, bisa lewat komunitas yang baik, kajian yang berbobot, dan dzikir.


Akuntabilitas Perjuangan

Setiap pengorbanan yang kita lakuin buat ngejaga iman bakal dapet balasan dari Allah.

Ashabul Kahfi akhirnya bangun di zaman yang sudah berubah total, di mana masyarakatnya sudah beriman.

Ini pelajaran kalau perjuangan kita mungkin nggak langsung keliatan hasilnya sekarang, tapi Allah bakal jaga "benih" kebenaran itu buat generasi masa depan.

Di akhirat nanti, para pemuda tangguh ini bakal dapet kemuliaan abadi karena mereka nggak pernah menjual imannya demi kenyamanan sesaat.


Refleksi

Kalau lingkunganmu sudah keterlaluan rusaknya, carilah "gua" perlindunganmu, yaitu komunitas yang sholeh, kajian yang berbobot, dan intensitas dzikir yang tinggi.

Jangan pernah kompromi sama hal-hal yang ngerusak akidahmu.

Jadilah manusia yang berani beda, yang punya prinsip yang nggak bisa dibeli sama tawaran karir atau jabatan dalam sistem yang zhalim.


Ashabul Kahfi nunjukin strategi bertahan. Sekarang, mari kita lihat strategi ekspansi dan keadilan global lewat kisah Dzulqarnain, sang penakluk yang menyatukan dunia di bawah kebenaran.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam