Skip to content

38. Nabi Musa dan Samiri: Godaan yang Berkilau

Pernahkah kamu merasa tergoda untuk mengikuti sesuatu yang "kelihatannya" bagus?


Tren baru yang semua orang ikuti, gaya hidup yang terlihat menggiurkan, atau bahkan pemikiran yang dibungkus dengan kata-kata manis?

Terkadang, yang berkilau bukan selalu emas — dan yang paling keras bersuara bukan selalu benar.

Inilah pelajaran yang harus dipetik kaum Bani Israil dalam peristiwa tragis penyembahan patung sapi emas.


Kemerosotan di Puncak Kemenangan

Bayangkan:

  • Baru saja diselamatkan dari Fir'aun
  • Baru saja melihat laut terbelah di depan mata
  • Baru saja merasakan keajaiban pembebasan terbesar dalam sejarah

Logikanya, iman mereka seharusnya sekuat baja.

Tapi manusia punya kecenderungan aneh: mudah lupa, mudah goyah, dan mudah terpesona oleh yang terlihat.

Ketika Musa AS pergi ke bukit Sinai untuk menerima wahyu, seorang bernama Samiri mengumpulkan emas dari orang-orang dan menciptakan patung anak sapi yang bisa bersuara.

Dengan retorika yang halus, ia meyakinkan umat bahwa inilah tuhan mereka.

فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَٰذَا إِلَٰهُكُمْ وَإِلَٰهُ مُوسَىٰ فَنَسِيَ

"Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka dari lobang api itu anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: 'Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.'" (QS. Thaha: 88)

Mereka lupa pada mukjizat laut yang terbelah. Mereka lupa pada penyelamatan dari Fir'aun. Mereka lupa pada Allah yang membebaskan mereka.

Semua lenyap begitu saja karena sesuatu yang "kelihatan" nyata dan punya suara.


Samiri Modern

Kita mungkin tidak menyembah patung sapi emas secara harfiah.

Tapi "Samiri" tidak pernah benar-benar pergi.

Mereka hadir dalam bentuk yang berbeda:

  • Influencer yang menjual gaya hidup materialistik
  • Budaya yang mengagungkan kepemilikan
  • Ideologi yang dibungkus dengan istilah-istilah "kekinian"

Mereka tahu cara membuat sesuatu terlihat "nyata" dan "menarik." Mereka tahu cara membuat kita merasa "ketinggalan" kalau kita tidak mengikuti.

Dan seperti Bani Israil dulu, kita sering kali lebih percaya pada apa yang kita lihat di layar daripada apa yang kita yakini dalam hati.


Identitas yang Kokoh

Krisis identitas Bani Israil bukan karena mereka tidak tahu yang benar — mereka tahu.

Tapi mereka lemah dalam memegang kebenaran itu ketika ada godaan yang lebih "menggiurkan."

Mereka lebih memilih yang instan, yang terlihat, yang bisa mereka pegang — daripada iman yang membutuhkan kesabaran dan keyakinan.

Ini adalah peringatan bagi kita:

Akidah yang kokoh bukan hanya tentang mengetahui yang benar, tapi juga tentang bertahan pada kebenaran itu ketika semua orang mengatakan sebaliknya.

Identitas yang kuat tidak goyah hanya karena ada sesuatu yang berkilau lewat.

Apa "sapi emas" dalam hidupmu saat ini? Apa yang sedang mencuri fokusmu dari hal-hal yang sebenarnya penting? Dan apakah kamu cukup kuat untuk mengatakan "tidak" meski semua orang mengatakan "ya"?


Kisah-kisah Nabi Musa AS penuh dengan liku-liku perjuangan, pengorbanan, dan pelajaran mendalam.

Sekarang, mari kita beralih ke sosok pemimpin yang memiliki kekuasaan politik luas namun tetap rendah hati dan dekat dengan Allah: Nabi Dawud AS.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam