Skip to content

31. Nabi Syuaib AS: Melawan Kecurangan dalam Ekonomi

Bagaimana berbisnis dengan kejujuran di tengah sistem yang korup?


Pernahkah kamu merasa bahwa kita hidup di dunia di mana kecurangan itu seperti sudah "diformalisasi"?

Pengurangan takaran, penimbunan barang agar harga naik, monopoli pasar, sampai korupsi yang berjamaah. Kita diajarkan bahwa dalam bisnis, yang penting untung besar, peduli dengan kejujuran.

"Kalau tidak menipu, tidak akan laku," katanya.

Padahal, ribuan tahun lalu, ada sebuah kaum bernama Madyan yang hancur berkeping-keping karena satu hal: kecurangan dalam timbangan.


Dakwah Ekonomi dan Keadilan Transaksi

Nabi Syuaib AS diutus kepada penduduk Madyan yang terkenal sebagai pedagang kaya tapi sangat licik. Mereka hobi mengurangi takaran saat jualan, tapi minta dilebihkan saat beli.

Mereka membangun ekonomi di atas dasar penipuan sistemik.

وَيَا قَوْمِ أَوْفُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

"Dan Syuaib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.'" (QS. Hud: 85)

Nabi Syuaib AS datang bukan hanya membawa nasihat, tapi membawa agenda revolusi ekonomi. Beliau menegaskan bahwa kejujuran dalam berdagang adalah ibadah, dan kecurangan adalah perusakan bumi.


Realitas Budaya Monopoli

Sistem ekonomi hari ini seringkali persis seperti penduduk Madyan. Banyak yang memuja efisiensi dan profit dengan cara apa pun.

Praktik monopoli, kartel pangan, sampai spekulan valas adalah "anak cucu" mentalitas Madyan. Mereka merampok hak rakyat kecil lewat instrumen hukum dan pasar yang dimanipulasi.

Mereka bilang itu "strategi bisnis", padahal itu adalah pengurangan hak orang lain.

Nabi Syuaib AS membuktikan bahwa ekonomi harus punya moralitas. Bisnis bukan hanya soal angka di neraca, tapi soal keberkahan.

Kekayaan yang didapat dari menindas atau menipu orang lain itu hampa, tidak punya ruh, dan ujung-ujungnya hanya akan mengundang kehancuran sosial dan ekonomi.


Keberkahan dalam Transaksi

Setiap transaksi yang jujur adalah investasi untuk ketenangan batin dan kemuliaan di hari esok.

Di hadapan Allah, harta yang paling dicintai adalah harta yang didapat dari jalan yang halal.

Penduduk Madyan akhirnya dihancurkan dengan suara yang menggelegar dan gempa bumi yang dahsyat karena mereka sombong dan menolak aturan ekonomi Allah.

Jangan sampai kita ikut tenggelam bersama sistem yang penuh tipu daya ini.

Jadilah orang yang punya integritas dalam urusan duit. Jangan mau "disogok" atau diajak main curang hanya untuk keuntungan receh.

Kalau kamu berjualan, berikan hak pembeli secara penuh. Kalau kamu jadi karyawan, tunaikan kerjamu secara profesional.

Jadilah pelaku ekonomi yang ingin menghapuskan praktik perdagangan tidak jujur dan monopoli zalim. Kejujuranmu adalah identitasmu.


Keadilan ekonomi sudah kita bahas. Sekarang, mari kita lihat bagaimana Nabi Ayyub AS menghadapi ujian kehilangan segalanya — harta, keluarga, hingga kesehatan — tapi tetap memiliki kesabaran yang luar biasa.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam