Skip to content

60. Digital Ethics: Adab Sosmedโ€”Jari yang Bertanggung Jawab โ€‹

Bagaimana menggunakan media sosial dengan adab yang bertanggung jawab?


Pernah ngerasa di media sosial orang jadi gampang banget untuk jahat?

Kita bisa dengan entengnya menghujat orang yang tidak kita kenal, menyebarkan berita yang belum tentu benar, atau pamer kelebihan kita biar orang lain merasa minder.

Kita merasa di balik layar HP, kita punya "kekuasaan" untuk mengatakan apa saja tanpa risiko.

Padahal, dalam Islam, setiap huruf yang kita ketik dan setiap postingan yang kita bagikan adalah amalan yang akan ditagih pertanggungjawabannya secara detil.


Pengawasan Digital Ilahi โ€‹

Al-Quran sudah memberi standar etika berkomunikasi jauh sebelum internet ada.

Allah mengingatkan bahwa ada "CCTV" malaikat yang tidak pernah offline mencatat setiap kata kita.

ู…ู‘ูŽุง ูŠูŽู„ู’ููุธู ู…ูู† ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ู ุฑูŽู‚ููŠุจูŒ ุนูŽุชููŠุฏูŒ

"Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18)


Etika dalam Setiap Klik โ€‹

Ini adalah esensi Digital Ethics.

Saat kita mau mengetik komentar jahat atau share berita tanpa tabayyun, ingatlah ada Malaikat Raqib dan Atid yang sedang mencatat sebagai "data log" untuk di akhirat nanti.

Kita hidup untuk menggunakan lisan dan jari kita sebagai sarana kebaikan, bukan untuk merusak kehormatan orang lain atau menyebarkan fitnah.

Jari kita harus sinkron dengan hati yang bertaqwa.


Realitas "Toxic Digital Culture" โ€‹

Budaya digital modern memuja "kebebasan berpendapat" tanpa batas moral.

Mereka ingin kita bebas berekspresi, meski ekspresi itu merusak mental orang, merusak tatanan sosial, atau menghina agama.

Algoritma sosmed justru mendukung konten yang memancing keributan karena lebih menguntungkan secara ekonomi.

Hasilnya? Muncul budaya cyberbullying, cancel culture, dan penyebaran gosip secara massal yang dianggap hiburan.

Menjadi muslim berarti harus jadi "filter" di tengah kekacauan digital.

Kita tidak boleh ikut-ikutan tren menghujat atau menyebarkan aib orang cuma karena ingin viral.

Islam mengajarkan kita untuk Tabayyun (cek dan ricek) sebelum share sesuatu.


Medan Dakwah Digital โ€‹

Kita harus sadar bahwa medsos adalah medan dakwah masa kini.

Gunakan jarimu untuk menyebarkan pemikiran yang cemerlang, bukan untuk menambah sampah digital.

Satu postingan baikmu bisa jadi pahala yang terus mengalir, tapi satu postingan hoax-mu bisa jadi dosa yang terus mengalir meski kamu sudah tiada.


Pertanggungjawaban Setiap Jejak โ€‹

Setiap jejak digital kita akan dibuka kembali di hadapan Allah.

Di Hari Pembalasan nanti, jari-jari kita akan "berbicara" sendiri tentang apa yang mereka ketik selama di dunia.

Allah akan bertanya: "Kenapa kamu ikut-ikutan menyebar fitnah di grup? Kenapa kamu gunakan akunmu cuma untuk pamer kemewahan sementara banyak orang susah?"

Media sosial kita bisa jadi jembatan ke surga, atau malah tali yang menarik kita ke neraka.


Refleksi โ€‹

Audit akun sosmedmu sekarang. Hapus postingan yang tidak bermanfaat, berhenti mengikuti akun yang cuma menyebarkan hal negatif.

Gunakan profilmu untuk posting narasi kebenaran, posting kritik terhadap kezaliman, dan tunjukkan adab yang berkelas di kolom komentar.

Jangan mau dikendalikan nafsu untuk pengen terkenal. Jadilah manusia yang jarinya "bertasbih" lewat konten-konten yang membangun kesadaran.


Adab individu sudah kita pelajari. Sekarang mari kita lihat bagaimana "squad goals" yang sesungguhnya lewat kisah-kisah tokoh dan kaum dalam Quran. Siapa saja yang bisa kita jadikan teladan dalam bersama-sama?

Dibuat dengan โค๏ธ untuk umat Islam