72. Dua Pemilik Kebun: Digital Flexing & Harta Pinjaman
Mengapa kesombongan dengan harta akan menghancurkan diri?
Pernah ngerasa hidup kamu itu kayak "kalah" pas liat orang lain posting kemewahan di sosmed?
Kamu liat mereka pamer mobil baru, liburan ke luar negeri, atau rumah mewah, dan tiba-tiba kamu ngerasa minder dan bilang: "Enak ya jadi dia, hartanya nggak habis-habis".
Kita hidup di zaman Digital Flexing, budaya pamer harta buat dapetin validasi dan bikin orang lain ngerasa kecil.
Kita sering lupa kalau harta itu sebenernya cuma "pinjaman" sesaat.
Kesombongan si Pemilik Kebun
Ada dua orang, yang satu dikasih Allah dua kebun anggur yang sangat subur, lengkap dengan mata air dan pohon kurma di sekelilingnya.
Beliau jadi sangat kaya.
Bukannya bersyukur, beliau malah "flexing" ke temennya yang lebih miskin sambil sombong: "Harta gue lebih banyak dari lo, dan pengikut gue lebih kuat!"
وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
"... Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: 'Hartaku lebih banyak dari hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat'." (QS. Al-Kahfi: 34)
Lupa Asal Usul
Beliau ngerasa kalau hartanya itu bakal kekal dan nggak bakal hancur selamanya.
Beliau ngerasa kalau dapet harta itu bukti kalau beliau "disayang" Tuhan atau emang pinter manajemen.
Padahal kita dan segala aset kita berasal dari Allah, maka nggak logis kalau kita pake aset itu buat ngerendahin orang lain yang sama-sama ciptaan Allah.
Realitas Kesuksesan = Materi
Sistem dunia hari ini ngajarin kita kalau standar kesuksesan itu cuma satu: yaitu Materi.
Mereka pengen kita terus-menerus pamer kesuksesan agar industri konsumsi tetep jalan.
Mereka nanamkan mentalitas "siapa yang punya banyak, dia yang menang".
Hasilnya? Masyarakat yang kompetitif secara destruktif, saling pamer, dan gampang kena penyakit hati.
Kita lupa kalau di balik kemewahan itu ada tanggung jawab sosial yang besar.
Temen si pemilik kebun yang mukmin nampar cara berpikir itu.
Beliau ngingetin kalau harusnya pas masuk kebun, kita bilang: "Maasya Allah laa quwwata illa billah" (Semua ini atas kehendak Allah, nggak ada kekuatan kecuali dari Allah).
Beliau ngingetin kalau Allah bisa aja nyabut semua itu dalam semalam.
Sebagai muslim, kita harus sadar kalau materi itu cuma alat, bukan identitas.
Kesuksesan sejati adalah pas kamu tetep rendah hati dan taat pas lagi di atas, dan tetep tenang pas lagi di bawah.
Akuntabilitas Nikmat
Setiap pameran harta yang kita lakuin bakal ditanya tujuannya.
Kita hidup buat menggunakan nikmat sebagai sarana berbagi, bukan sarana buat ngebangun benteng kesombongan.
Si pemilik kebun yang sombong itu akhirnya cuma bisa gigit jari pas ngeliat kebunnya hancur ludes disamber petir dalam semalam.
Beliau nyesel tapi sudah terlambat.
Di akhirat nanti, tangan-tangan yang dipake buat pamer bakal dibelenggu, sementara tangan yang dipake buat berbagi bakal dapet naungan.
Refleksi
Audit konten sosmedmu sekarang!
Apakah postinganmu bikin orang makin termotivasi buat baik atau malah bikin orang makin minder?
Berhentilah jadi budak Flexing! Belajarlah buat menyembunyikan kenikmatanmu dari mata orang yang susah.
Jadilah manusia yang kaya manfaat, bukan cuma kaya gaya.
Ingat, harta itu kayak bayangan: kalau kamu kejar dia lari, tapi kalau kamu lari ke Allah, dia bakal ngikutin kamu.
Flexing sudah kita bedah. Sekarang, mari kita lihat gimana normalisasi penyimpangan moral di era modern ini bisa ngerusak peradaban lewat kisah Kaum Luth.