Skip to content

42. Nabi Yunus AS: Ketika Keberanian Tumbuh dari Kegagalan โ€‹

Bagaimana menghadapi momen putus asa dan ingin menyerah?


Dari kebesaran kekuasaan Sulaiman AS, kita beralih ke kisah yang lebih personal dan manusiawi: saat seorang nabi merasa gagal, marah, dan memilih untuk pergi.

Pernahkah kamu merasa "mentok" dan pengin mundur aja dari tanggung jawab? Kamu sudah capek berusaha, mengajak orang lain ke kebaikan, tapi tidak ada yang mendengarkan. Akhirnya kamu merasa burnout, putus asa, dan memilih untuk menghilang dari kewajiban.

Kita sering merasa punya hak untuk "kabur" ketika keadaan makin sulit. Tapi dalam sejarah dakwah, pernah ada seorang nabi yang memilih untuk "mundur" dari medan tugasnya tanpa izin Allah.

Dan beliau harus menerima konsekuensi yang sangat berat.


Meninggalkan Tanggung Jawab โ€‹

Nabi Yunus AS diutus ke penduduk Ninawa yang sangat keras kepala. Setelah bertahun-tahun berdakwah tanpa hasil yang terlihat, Yunus merasa marah dan putus asa.

Beliau memutuskan untuk pergi meninggalkan kaumnya sebelum ada perintah dari Allah. Beliau mengira tugasnya sudah selesai.

Tapi di mata Allah, seorang hamba tidak boleh meninggalkan posisinya sebelum ada komando.

ูˆูŽุฐูŽุง ุงู„ู†ู‘ููˆู†ู ุฅูุฐ ุฐู‘ูŽู‡ูŽุจูŽ ู…ูุบูŽุงุถูุจู‹ุง ููŽุธูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽู† ู„ู‘ูŽู† ู†ู‘ูŽู‚ู’ุฏูุฑูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽู†ูŽุงุฏูŽู‰ูฐ ูููŠ ุงู„ุธู‘ูู„ูู…ูŽุงุชู ุฃูŽู† ู„ู‘ูŽุง ุฅูู„ูŽูฐู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ุชูŽ ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽูƒูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ูƒูู†ุชู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููŠู†ูŽ

"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan menyempitkannya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: 'Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim'." (QS. Al-Anbiya: 87)

Yunus AS terjebak dalam tiga kegelapan: kegelapan malam, kegelapan dasar laut, dan kegelapan perut ikan. Inilah cara Allah "menjemput" kembali hamba-Nya yang sedang kabur dari tugas.


Menyerah atau Bertahan? โ€‹

Sistem dunia sering mengajarkan bahwa "kalau sudah tidak bahagia, ya tinggalkan saja". Kita dididik untuk menjadi generasi yang mudah menyerah ketika ada tekanan.

Kita disuruh mencari "kenyamanan diri" di atas segalanya.

Nabi Yunus AS menunjukkan bahwa meninggalkan tanggung jawab tanpa izin Allah justru akan membuat hidup kita makin sempit dan gelap.

Tidak ada kebahagiaan sejati di luar jalan yang benar. Kita harus siap menanggung beban, siap dicaci, dan siap menunggu waktu kemenangan dari Allah.

Setiap langkah kita di medan dakwah akan dihitung. Doa Yunus AS di perut ikan adalah kunci "pemulihan" beliau. Beliau mengakui kesalahan dan kembali lagi ke tugasnya.

Akhirnya, kaumnya justru bertobat massalโ€”sebuah hasil yang tidak beliau duga sebelumnya.

Di akhirat nanti, Allah tidak akan bertanya "berapa orang yang ikut kamu", tapi Allah akan bertanya "apakah kamu tetap di posisimu sampai akhir?"

Kesetiaan pada tugas adalah tiket menuju cahaya-Nya.


Refleksi โ€‹

Jangan jadi orang yang ikut-ikutan mood. Berdakwah bukan soal hobi yang bisa ditinggal pas bosan.

Jika kamu sedang merasa down, jangan kabur dari komunitas, tapi masuklah ke "perut ikan" taubatmu. Akui kelemahanmu di depan Allah, lalu kembali lagi ke medan.

Dunia ini butuh orang yang konsisten, yang tidak gampang pindah haluan hanya karena godaan kenyamanan sesaat.


Komitmen sudah diperbaharui. Sekarang, mari kita lihat bagaimana Nabi Zakariya dan Yahya AS menyiapkan generasi penerus di saat semua orang sudah mulai putus asa karena kelangkaan orang-orang baik.

Dibuat dengan โค๏ธ untuk umat Islam