56. Ikhlas: Biar Gak Haus Validasi Manusia โ
Bagaimana membebaskan diri dari perbudakan validasi manusia?
Pernah ngerasa "berakting" saat berbuat baik?
Sholat di masjid biar dibilang sholeh, posting kutipan bijak biar dapet banyak likes, atau ngebantu orang cuma biar dipuji.
Kita hidup di zaman yang memuja validasi. Rasanya perbuatan baik tidak ada gunanya kalau tidak ada yang melihat.
Tapi tahukah kamu? Dalam Islam, satu-satunya hal yang bikin perbuatanmu bernilai di mata Tuhan adalah Ikhlas.
Memurnikan Motivasi โ
Ikhlas secara bahasa berarti bersih atau murni. Motivasi kita dalam berbuat bersih dari segala kepentingan selain rida Allah.
Kita tidak butuh tepuk tangan, tidak butuh kamera, kita hanya butuh "tatapan" Allah.
ููู ูุง ุฃูู ูุฑููุง ุฅููููุง ููููุนูุจูุฏููุง ุงูููููู ู ูุฎูููุตูููู ูููู ุงูุฏููููู ุญูููููุงุกู ...
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Memerdekakan Diri dari Opini โ
Saat kita ikhlas, kita sebenarnya sedang "memerdekakan" diri dari perbudakan opini manusia.
Kita tidak akan down saat dicaci, dan tidak akan melayang saat dipuji. Karena "gaji" kita bukan dari mereka, tapi dari Allah.
Kita hidup untuk berbakti pada Sang Khaliq secara murni, bukan untuk jadi "badut" yang butuh validasi penonton.
Realitas "Show-Off Culture" โ
Media sosial didesain untuk bikin kita haus pengakuan. Kita dididik untuk membangun "Personal Brand" yang seringkali palsu.
Hasilnya? Banyak orang merasa depresi saat tidak mendapat perhatian yang diinginkan. Mereka kehilangan kebahagiaan batin karena standarnya ada di tangan orang lain.
Menjadi muslim berarti berani punya "rahasia" sama Allah. Ada amalan-amalan yang cuma kita dan Allah yang tahu.
Ikhlas adalah benteng dari penyakit Riya' (pamer). Orang yang ikhlas adalah yang paling kuat, karena dia tidak bisa disogok dengan jabatan atau popularitas. Dia tetap akan berbuat baik meski namanya tidak pernah disebut.
Niat yang Menentukan โ
Setiap perbuatan yang tidak didasari ikhlas akan menguap begitu saja di akhirat nanti.
Di hadapan Allah, kita akan kaget melihat banyak amal besar yang "ditolak" cuma gara-gara niatnya cari muka di depan manusia.
Sebaliknya, amal kecil yang ikhlas bisa jadi gunung pahala yang menyelamatkan kita.
Refleksi โ
Tanya dirimu: "Gue ngelakuin ini buat siapa?"
Kalau mulai ngerasa kesel saat tidak ada yang muji kerja kerasmu, hati-hatiโitu tandanya virus haus validasi sedang menyerang.
Berhentilah jadi budak likes. Belajarlah menyembunyikan kebaikanmu sebagaimana kamu menyembunyikan aibmu.
Jadilah manusia yang tulus, yang energinya tidak pernah habis karena sumbernya adalah rida Allah, bukan komentar netizen.
Ikhlas sudah jadi pakaian jiwa kita. Sekarang, bagaimana cara membangun pandangan positif di tengah banyaknya berita buruk? Mari kita bahas Husnuzanโseni berprasangka baik kepada Allah.