85. Salahuddin Al-Ayyubi: Kemuliaan dalam Kemenangan
Dari dunia fana menuju keabadian perjuangan.
Pernahkah kamu merasa hampa saat melihat berita tentang penjajahan di Palestina? Kita mengikuti perkembangannya dari layar ponsel, merasakan sakit namun terasa begitu jauh dan tak berdaya. Di saat seperti itu, sejarah memberikan kita secercah harapan—bahwa pernah ada seorang hamba Allah yang berhasil mengembalikan kehormatan umat Islam di tanah yang sama, dengan cara yang membuat bahkan musuhnya terpukau.
Inilah kisah Salahuddin Al-Ayyubi, yang membuktikan bahwa kemenangan sejati datang dari kelembutan hati yang dipadu dengan keteguhan prinsip.
Pembebas Al-Quds
Salahuddin bukan sekadar panglima perang. Beliau adalah pemimpin yang memahami bahwa untuk membebaskan tanah suci, umat Islam harus bersatu terlebih dahulu. Dengan diplomasi yang cerdas, beliau menyatukan Mesir, Suriah, dan wilayah sekitarnya di bawah satu panji keadilan.
Puncaknya terjadi di medan Hittin, di mana pasukan Salib akhirnya kalah. Namun yang lebih luar biasa adalah apa yang terjadi setelahnya. Ketika Salahuddin memasuki Al-Quds (Yerusalem), beliau memilih jalan yang tidak pernah diambil oleh penjajah sebelumnya: beliau tidak membalas dendam. Sebaliknya, beliau menjamin keselamatan penduduk non-Muslim dan membebaskan tawanan tanpa tebusan.
كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
"Allah telah menetapkan: 'Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang'. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al-Mujadilah: 21)
Kemenangan ini bukan tentang siapa yang lebih kuat secara militer, tapi tentang siapa yang lebih taat kepada Allah. Bahkan Richard the Lionheart, musuh bebuyutannya, terpaksa mengakui integritas moral yang tidak bisa dibeli dengan emas sekalipun.
Cerminan Keadilan dalam Sejarah
Seringkali kita melihat narasi sejarah yang diputarbalikkan oleh media Barat. Para penjajah dipuji sebagai "penjelajah" atau "pembebas", sementara pahlawan sejati dilupakan. Akibatnya, banyak generasi muda yang lebih mengenal tokoh fiksi daripada mengenal warisan sesungguhnya dari umat mereka.
Salahuddin memberi pelajaran bahwa keadilan tidak mengenal batas agama. Ketika beliau berkuasa di Yerusalem, orang Yahudi yang sebelumnya dilarang masuk kota itu akhirnya bisa kembali beribadah. Ini adalah bukti bahwa Islam bukan agama kekerasan, tapi agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Menjadi Muslim berarti memiliki Kesadaran Sejarah—mengenali akar kebesaran umat agar kita bisa menatap masa depan dengan keyakinan yang sama.
Warisan yang Abadi
Setiap langkah menuju kebaikan, sekecil apa pun, akan dicatat oleh Allah. Salahuddin tidak hidup untuk namanya diabadikan dalam buku-buku sejarah; beliau hidup untuk menunaikan amanah sebagai pelindung umat. Itulah sebabnya nama beliau tetap menyala hingga hari ini.
Perjuangan kita saat ini untuk membela saudara-saudara kita di Palestina adalah kelanjutan dari semangat yang sama. Bukan dengan kebencian, tapi dengan keadilan. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan keteguhan hati.
Refleksi
Kemenangan tidak selalu datang dalam semalam. Salahuddin menunggu bertahun-tahun, membangun kekuatan, dan menyatukan hati sebelum akhirnya Allah mengabulkan doanya.
Jangan pernah merasa bahwa kontribusimu terlalu kecil. Belajar dari sejarah, perkuat akidah, dan jadilah bagian dari solusi. Dunia butuh lebih banyak figur yang menginspirasi melalui karakter, bukan hanya melalui kata-kata.
Sebelum kita bisa memahami makna perjuangan yang sesungguhnya, ada satu hal mendasar yang harus kita sadari: kehidupan ini hanyalah perjalanan sementara. Titik berikutnya dari perjalanan kita adalah sesuatu yang akan dialami oleh setiap makhluk yang pernah hidup.