59. Mental Health in Quran: As-SyifaโTenang di Tengah Anxiety โ
Bagaimana menemukan ketenangan sejati di tengah kecemasan?
Pernah ngerasa dadamu sesak padahal tidak sakit fisik?
Pikiran melayang ke mana-mana, takut masa depan, menyesali masa lalu, sampai rasanya hampa dan tidak punya tujuan.
Kita hidup di era di mana kecemasan dan depresi menghantui banyak anak muda. Kita sering cari solusi lewat healing ke sana kemari, baca buku psikologi, atau curhat ke teman yang sama-sama bingung.
Tapi kenapa rasa tenang itu cuma datang sebentar lalu hilang lagi?
Tahukah kamu? Allah SWT menurunkan Quran bukan cuma untuk dibaca ritual, tapi sebagai "obat penenang" (As-Syifa) yang dosisnya paling pas untuk jiwa kita.
Al-Quran sebagai Penyembuh โ
Allah SWT tidak menciptakan tubuh kita saja, tapi juga sistem jiwa kita. Dan Quran adalah "buku manual" sekaligus "antivirus"-nya.
ููุง ุฃููููููุง ุงููููุงุณู ููุฏู ุฌูุงุกูุชูููู ู ููููุนูุธูุฉู ู ููู ุฑููุจููููู ู ููุดูููุงุกู ูููู ูุง ููู ุงูุตููุฏููุฑู ููููุฏูู ููุฑูุญูู ูุฉู ูููููู ูุคูู ูููููู
"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh (Syifa') bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57)
Reset Cara Pandang โ
Saat dadamu sesak karena masalah hidup, itu tandanya jiwa sedang butuh "reset".
Quran hadir untuk mengembalikan cara pandang kita. Dia menyembuhkan penyakit ragu, penyakit cinta dunia yang berlebihan, dan penyakit takut selain kepada Allah.
Kita berasal dari Zat yang Mahatahu apa yang bikin kita tenang, maka mustahil kita dapat ketenangan sejati kalau menjauh dari Quran.
Realitas Industri "Healing" โ
Budaya modern sering menjadikan masalah mental sebagai ladang bisnis. Mereka menawarkan "kebahagiaan" lewat konsumsi: makan enak, belanja, atau traveling.
Mereka bilang self-care itu adalah manjakan hawa nafsu.
Hasilnya? Masalah mental kita hanya tertutup sementara, tapi akarnya tidak pernah disentuh. Mereka ingin kita tetap jadi konsumen yang rapuh agar terus membutuhkan "produk" mereka.
Menjadi muslim berarti sadar bahwa ketenangan sejati datang dari Dzikrullah (mengingat Allah).
Quran mengajarkan kita bahwa dunia ini cuma ujian, kegagalan itu proses, dan kesuksesan sejati ada di akhirat.
Pemahaman ini membuat kita punya mentalitas yang tangguh. Kita tidak gampang kena anxiety karena tahu ada Allah yang mengatur segalanya.
Ketenangan yang Abadi โ
Setiap cara kita menghadapi tekanan hidup akan dicatat nilainya.
Kita hidup untuk membuktikan bahwa iman kita lebih kuat dari masalah kita.
Di hadapan Allah, jiwa-jiwa yang tenang (Nafsul Mutmainnah) akan dipanggil dengan panggilan paling indah untuk masuk ke surga-Nya:
"Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku yang berbahagia, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27-30)
Refleksi โ
Berhentilah mencari ketenangan di tempat yang salah.
Saat merasa anxiety, jangan pelarian ke musik atau tontonan yang malah bikin pikiran makin berantakan.
Ambil wudhu, buka Mushaf, dan bacalah dengan tadabbur. Biarkan ayat-ayat Allah mengembalikan frekuensi hatimu.
Jadilah manusia yang mentalnya sehat karena selalu terkoneksi dengan Sang Pencipta. Quran bukan cuma pajangan, dia adalah obat bagi setiap luka yang tidak terlihat di dadamu.
Jiwa sudah tenang. Sekarang bagaimana dengan perilaku kita di ruang publik digital? Di era medsos, bagaimana cara kita bersikap agar jari kita tidak merusak kebaikan yang sudah kita bangun? Mari kita bahas Digital Ethics.