17. Sistem Pendidikan: Building the Mind: Mencetak Karakter Tangguh
Apakah pendidikan kita hanya soal ijazah dan gaji?
Pernah ngerasa sekolah atau kuliah itu cuma buat cari gelar, biar dapet kerja kantoran, biar dapet gaji, biar bisa pamer di reuni? Sistem pendidikan hari ini seringkali didesain cuma buat nyetak "sekrup-sekrup" dalam mesin industri kapitalisme.
Kita cuma diajarin hard skill buat jadi karyawan yang nurut, tapi kehilangan jati diri sebagai manusia berakal. Pendidikan jadi semata-mata soal "bagaimana bisa hidup", tapi lupa soal "mengapa kita hidup".
Padahal Islam punya visi pendidikan yang jauh lebih besar dan fundamental.
Fondasi Akidah, Puncak Peradaban
Tujuan pendidikan Islam bukan cuma soal IPK tinggi atau bisa masuk perusahaan besar. Pendidikan Islam bertujuan agar setiap muslim punya pola pikir dan pola sikap yang semuanya bersandar pada akidah Islam.
Ilmu bukan cuma buat nyari makan, tapi buat mengenal Allah dan membangun dunia sesuai syariat.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ilmu tanpa iman itu berbahaya—seperti senjata nuklir di tangan orang zalim. Iman tanpa ilmu itu lemah—seperti pejuang tanpa perlengkapan. Pendidikan Islam menggabungkan keduanya menjadi satu kekuatan yang dahsyat.
Kita belajar sains, teknologi, dan matematika bukan buat sombong, tapi buat tunduk pada keagungan Allah Sang Pemilik Ilmu.
Pendidikan Materialistik vs Pendidikan Berdimensi
Pendidikan sekular saat ini memisahkan agama dari sains dan kehidupan sosial. Hasilnya? Lahirlah ilmuwan yang nggak punya moral, dokter yang cuma mikirin profit, insinyur yang nggak peduli dampak ekologis, dan politikus yang pintar manipulasi.
Pendidikan hanya jadi alat "jual-beli" masa depan demi keuntungan korporat.
Islam mengajarkan kita untuk menjadi seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, atau Al-Fatih—yang hafal Quran, paham hukum syara', tapi juga jago algoritma, kedokteran, dan strategi. Ini adalah peradaban intelektual yang hakiki, di mana setiap penemuan sains makin menambah ketundukan kita kepada Sang Pencipta.
Tanggung Jawab Ilmu
Setiap detik yang kita habiskan buat belajar akan ditanya pertanggungjawabannya. Apakah ilmu yang kita punya cuma buat pamer status dan cari jabatan duniawi, atau buat menebar manfaat dan membela kebenaran?
Di Hari Pembalasan nanti, gelar akademik kita nggak bakal laku. Yang laku cuma: "Apakah ilmumu itu diamalkan atau tidak?"
Refleksi
Jangan mau cuma jadi "produk" lulusan yang pinter secara teknis tapi kosong secara moral. Jadilah pembelajar sepanjang hayat. Isi kepalamu dengan pemikiran Islam yang mendalam dan asah skill duniamu setajam mungkin.
Dunia hari ini butuh ahli IT, insinyur, ekonom, dan sosiolog yang punya hati selevel para Sahabat Nabi. Jadilah individu yang cerdas, bervisi besar, dan hanya tunduk pada kebenaran.
Generasi tangguh sudah siap dicetak. Terus gimana kalau ada yang nekat berbuat jahat dan merusak tatanan? Sistem sanksi Islam adalah pelindung kita semua.