Skip to content

24. Nabi Ibrahim AS (Pencarian): Revolusi Berpikir Mencari Tuhan

Apakah beragama harus selalu tentang warisan, atau bisa juga hasil pencarian pribadi?


Banyak orang bilang beragama itu cuma urusan "warisan" orang tua. Kalau bapaknya muslim, anaknya muslim. Kalau bapaknya nyembah patung, anaknya nyembah patung. Kita sering diajarkan buat jadi "pengikut" yang patuh pada tradisi tanpa pernah bertanya: "Kenapa?"

Tapi Nabi Ibrahim AS menolak logika itu. Beliau nggak mau beriman cuma gara-gara keturunan atau tradisi. Beliau melakukan pencarian intelektual yang sangat radikal, mendalam, dan jujur buat nemuin hakikat Sang Pencipta.


Logika yang Mematahkan Berhala

Nabi Ibrahim AS hidup di lingkungan pembuat berhala (bahkan ayahnya, Azar, adalah pembuatnya!). Sejak kecil, beliau udah mikir kritis: "Masak tuhan dibuat dari batu? Masak tuhan bisa dihancurin? Masak tuhan nggak bisa ngomong dan nggak denger apa-apa?"

Beliau mulai memperhatikan fenomena alam semesta—bintang, bulan, dan matahari—sebagai alat observasi.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

"Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku', tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'." (QS. Al-An'am: 76)

Begitu terus beliau amati bulan, lalu matahari yang lebih besar. Beliau menyimpulkan: Tuhan tidak boleh memiliki keterbatasan fisik, tidak boleh "tenggelam" (lemah), dan harus menjadi Zat yang menciptakan segala benda langit tersebut.


Tradisi Buta vs Pemikiran Kritis

Dunia modern sering ngajarin kita buat jadi "bebas berpikir", tapi anehnya mereka justru menyingkirkan Tuhan dari proses berpikir itu. Mereka bilang "percaya Tuhan itu nggak logis".

Nabi Ibrahim AS justru membuktikan sebaliknya: Beriman kepada Allah adalah kesimpulan yang paling logis dan rasional dari pengamatan alam semesta.

Ada dua kutub yang salah: sekuler yang ingin kita jauh dari Tuhan, dan tradisi kolot yang ingin kita "nurut aja" tanpa mikir. Islam mengajarkan kita berpikir tajam sampai kita menemukan bahwa Allah adalah satu-satunya tujuan hidup.

Tanpa proses berpikir yang benar, iman kita cuma bakal jadi "baju luaran" yang gampang dilepas saat kena godaan dunia.


Pencarian Menuju Keyakinan Mutlak

Perjalanan intelektual Nabi Ibrahim AS menghasilkan keyakinan yang jadi "akar" yang sangat kuat. Keyakinan ini yang membawa beliau berani menghadapi api Namrud, karena beliau tahu persis siapa Tuhannya.

Di akhirat nanti, iman yang paling berharga adalah iman yang dibangun di atas fondasi kesadaran intelektual yang murni, bukan iman yang cuma ikut-ikutan atau terpaksa.


Refleksi

Jangan jadi muslim yang "robot", yang cuma ikut arus tren atau tradisi tanpa tahu dasarnya. Perdalam akidahmu dengan argumen yang kuat dan rasional. Baca Al-Quran, pelajari alam, dan bangun keyakinan yang nggak bisa digoyahkan oleh keraguan apa pun.

Iman yang paling kuat adalah iman yang lahir dari pemikiran yang cemerlang.


Pencarian intelektual sudah selesai. Sekarang saatnya aksi nyata di medan. Kisah selanjutnya akan membawa kita melihat bagaimana Nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala fisik dan berani beda di tengah arus mayoritas.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam