Skip to content

26. Nabi Ibrahim & Ismail AS: Menghancurkan Berhala Cinta dalam Hati

Apakah ada sesuatu yang kita cintai lebih dari yang seharusnya?


Pernah nggak sih kamu merasa "terjebak" antara apa yang sangat kamu inginkan dan apa yang Tuhan perintahkan? Di dunia yang memuja self-love dan "ngikutin kata hati", konsep pengorbanan seringkali dianggap sebagai hal yang kuno atau bahkan menyiksa diri.

Kita diajarkan kalau kebahagiaan itu adalah memiliki semua yang kita mau. Tapi, kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail AS, hadir untuk melakukan reset terhadap definisi cinta dan ketaatan kita.


Ujian Loyalitas Tertinggi

Setelah menanti puluhan tahun dalam doa yang tak putus, Nabi Ibrahim AS akhirnya dikaruniai seorang anak, Ismail. Namun, saat rasa cinta itu sedang mekar-mekarnya, Allah memberikan perintah yang secara logika manusia adalah sebuah kegilaan: Menyembelih putra kesayangannya sendiri.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّيْعَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS. Ash-Shaffat: 102)

Perhatikan diksi "If'al ma tu'mar" (Kerjakan apa yang diperintahkan). Ismail tidak bertanya "Kenapa?", "Emang nggak ada cara lain?", atau "Gimana dengan masa depanku?". Dia memahami satu hal: Perintah Allah adalah otoritas tertinggi.


Berhala Perasaan

Zaman sekarang sedang membangun "pemujaan ego". Banyak yang bilang, perasaan kita selalu benar dan tidak boleh dibantah. Hasilnya? Kita jadi generasi yang lembek, yang gampang meninggalkan syariat hanya karena "nggak sreg" atau "kerasa berat".

Kita lebih takut kehilangan kenyamanan duniawi daripada kehilangan rida Allah.

Ibrahim AS diperintahkan menyembelih Ismail bukan karena Allah butuh darah, tapi untuk "menyembelih" berhala cinta di hati Ibrahim yang mulai menyaingi cintanya kepada Allah.


Perjalanan Pulang yang Berkualitas

Setiap pengorbanan yang kita lakukan hari ini—meninggalkan transaksi ribawi yang menggiurkan, menjaga kesucian di tengah pergaulan bebas, atau meluangkan waktu kebaikan di tengah kesibukan—adalah investasi untuk masa depan.

Kita sedang mempersiapkan diri untuk berdiri di hadapan Allah dengan wajah tegak, membawa bukti bahwa kita tidak pernah menduakan-Nya dengan apa pun dalam hidup kita.


Refleksi

Tanya dirimu: Apa "Ismail" dalam hidupmu? Apa sesuatu yang paling kamu cintai yang sebenernya lagi jadi "berhala" yang ngehalangin kamu buat taat total? Apakah itu karir yang syubhat? Hubungan yang nggak halal? Atau haus validasi di sosmed?

Belajarlah dari Ibrahim: Saat kamu berani melepaskan sesuatu demi Allah, Allah justru akan menggantinya dengan kemuliaan yang abadi.

Jangan jadi hamba perasaan, jadilah hamba Allah yang tangguh.


Ketaatan sudah diuji secara radikal. Sekarang, mari kita lihat bagaimana seorang nabi menghadapi tantangan dekadensi moral yang sangat relevan dengan realitas zaman ini.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam