Skip to content

52. Ghazwul Fikri: Brainwashing Cara Musuh Merusak Berpikir

Kenapa kita sering merasa minder dengan budaya sendiri?


Dari kritik terhadap ikatan yang memecah belah, kita beralih ke sesuatu yang lebih tersembunyi tapi sangat berbahaya: perang terhadap cara berpikir kita.

Pernahkah kamu merasa kalau standar "bagus" atau "keren" itu sebenarnya didikte sama orang lain? Kenapa kita ngerasa kalau dandan ala artis Hollywood itu modern, tapi nutup aurat itu dibilang kuno? Kenapa kita ngerasa kalau sukses itu dapet kerja di perusahaan multinasional, tapi berjuang buat umat dibilang radikal?

Kita seringkali tidak sadar kalau pikiran kita sedang di-invasi. Inilah yang disebut sebagai Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran). Sebuah perang tanpa peluru, tapi tujuannya lebih mematikan: mengubah cara pandang kita agar kita benci sama identitas kita sendiri.


Invasi Mentalitas

Ghazwul Fikri tidak nyerang fisik kita, tapi nyerang pola pikir kita. Mereka pakai media, film, musik, kurikulum pendidikan, sampai tren medsos buat masukin virus-virus sekularisme, liberalisme, dan materialisme ke dalam otak kita.

Al-Quran sudah mengingatkan tentang ambisi musuh-musuh Islam buat mengubah keyakinan kita.

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama (millah/cara hidup) mereka..." (QS. Al-Baqarah: 120)

Kata Millah di sini bukan cuma soal ritual ibadah, tapi soal Ideologi dan Gaya Hidup. Pas kita mulai ngerasa kalau Syariat Islam itu "berat" atau "tidak relevan", berarti invasi mereka sudah sukses.


Kompleksitas Minder

Hasil paling nyata dari Ghazwul Fikri adalah munculnya rasa minder (inferiority complex) di kalangan pemuda muslim. Kita ngerasa peradaban Islam itu "masa lalu yang gagal", sementara peradaban Barat adalah "masa depan yang gemilang".

Kita jadi follower yang setia: apa yang viral di sana, kita telan mentah-mentah di sini. Kita kehilangan daya kritis intelektual kita.

Kita jadi generasi yang pinter bahasa asing, pinter teknologi, tapi buta terhadap jati diri ideologisnya sendiri.


Akuntabilitas Intelektual

Setiap pemikiran yang kita yakini dan kita sebarkan akan ditanya dasarnya. Di hadapan Allah, kita tidak bisa berdalih "semua orang juga mikirnya gitu".

Allah bakal nanya: "Aku sudah turunkan Al-Haq (Quran), kenapa kamu malah lebih milih ngikutin dugaan-dugaan orang kafir?"

Keselamatan kita tergantung pada sejauh mana kita mampu menjaga "keaslian" iman kita di tengah gempuran propaganda global.


Refleksi

Jangan gampang kemakan hype! Jadilah pribadi yang kritis. Pas kamu liat tren atau pemikiran baru, tanya: "Ini sesuai syariat tidak? Ini merusak akidah saya tidak?"

Berhentilah memuja-muja budaya asing secara berlebihan. Banggalah jadi muslim! Pelajari sejarah kegemilangan Islam agar kamu punya alasan kuat buat bangga.

Lawan Ghazwul Fikri dengan cara rajin baca buku-buku yang kritis, ikut kajian yang memperkuat pemahaman, dan sebarkan narasi Islam yang cemerlang di media sosialmu.


Ghazwul Fikri merusak pikiran. Sekarang, mari kita lihat bagaimana "Feminisme" seringkali dibungkus dengan isu pemberdayaan padahal sebenarnya sedang merusak tatanan keluarga sakinah.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam