69. Harut & Marut: Dark Science & Ujian Pengetahuan
Bagaimana menggunakan ilmu sebagai sarana kebaikan, bukan kehancuran?
Pernah ngerasa tergoda buat gunain ilmu atau teknologi buat hal-hal yang sebenernya ngerusak, tapi kamu berdalih "ini kan cuma buat eksperimen"?
Kita hidup di zaman di mana pengetahuan seringkali jadi pedang bermata dua.
Teknologi siber, AI, sampai manipulasi data bisa dipake buat kebaikan, tapi lebih sering dipake buat ngerusak hubungan orang, nipu, atau nge-kontrol pikiran massa.
Kisah dua malaikat, Harut dan Marut, hadir buat ngingetin kita tentang hakikat ujian di balik setiap ilmu.
Ilmu sebagai Fitnah
Harut dan Marut diturunkan Allah ke Babilonia bukan buat nyesatin orang, tapi sebagai Fitnah (ujian).
Mereka ngajarin ilmu sihir yang bisa misahin suami dari istrinya.
Tapi sebelum ngajarin, mereka selalu ngasih peringatan: "Kami ini cuma ujian, janganlah kamu jadi kafir."
... وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ...
"... Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: 'Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'..." (QS. Al-Baqarah: 102)
Netralitas Ilmu
Ilmu itu sendiri netral, tapi pas manusia pake buat ngerusak (kayak sihir pemecah keluarga), di situlah manusia jatuh ke dalam kekufuran.
Mereka lebih milih belajar sesuatu yang mendatangkan mudharat daripada manfaat.
Pelajarannya: kita hidup buat menggunakan ilmu pengetahuan sebagai sarana buat makin deket sama Allah dan nebar manfaat, bukan buat ngerusak harmoni masyarakat.
Realitas Kebebasan Akademik tanpa Batas
Sistem dunia hari ini sering memuja "Kebebasan Akademik" tanpa batas moral.
Mereka bilang ilmuwan boleh riset apa aja, termasuk senjata biologis, teknologi yang ngerusak privasi, sampai ilmu psikologi yang dipake buat manipulasi pasar.
Mereka memisahkan etika agama dari sains.
Hasilnya? Muncul "Harut & Marut Modern" di laboratorium korporasi yang nyiptain algoritma buat mecah belah masyarakat lewat polarisasi politik atau nyebarin konten yang ngerusak institusi keluarga.
Sebagai muslim, kita harus punya Integritas Intelektual.
Kita harus sadar kalau setiap ilmu yang kita punya ada "Warning Label"-nya dari Allah.
Kita jangan mau jadi ahli IT yang jago nge-hack buat kejahatan, atau ahli hukum yang pinter nyari celah buat ngebebasin koruptor.
Ilmu adalah amanah. Kita harus berani bilang "Tidak" pada penggunaan ilmu yang bertentangan sama nilai, meskipun itu keliatannya canggih dan menguntungkan.
Akuntabilitas Intelektual
Setiap baris kode yang kamu ketik dan setiap teori yang kamu sebarkan akan ditanya dampaknya di akhirat.
Orang yang gunain ilmunya buat nyesatin orang lain bakal nanggung beban dosa orang-orang yang tersesat itu.
Sebaliknya, ilmu yang manfaat bakal jadi cahaya yang nggak pernah padam meskipun kita sudah di alam kubur.
Refleksi
Audit keahlianmu sekarang!
Apakah skill desainmu dipake buat kebaikan atau buat promosi maksiat? Apakah skill bicaramu dipake buat nengahin konflik atau malah buat manas-manasin suasana?
Berhentilah ngerasa keren pas kamu bisa "ngerusak" sistem atau orang lain lewat kepintaranmu.
Jadilah manusia yang ilmunya bikin orang makin tenang dan makin kenal sama Allah.
Ujian ilmu sudah kita bahas. Sekarang, mari kita lihat gimana pendidikan ideologis bisa nyetak generasi pembebas lewat kisah Keluarga Imran.