Skip to content

79. Istri-Istri Nabi: Dukungan Sejati di Balik Perjuangan

Apa peran wanita dalam membangun peradaban?


Pernah merasa peran wanita dalam perjuangan hanya dianggap "pelengkap" atau sekadar urusan rumah tangga? Padahal di balik setiap kesuksesan, sering kali ada sosok wanita yang memberikan dukungan penuh, entah sebagai istri, ibu, atau saudara.

Di balik setiap revolusi peradaban yang dipimpin Nabi Muhammad SAW, ada barisan wanita tangguh yang menjadi pusat kekuatan mental, finansial, dan intelektual.


Pilar Perjuangan

Mereka bukan sekadar "istri", tapi rekan perjuangan yang tanpa mereka, dakwah Islam tidak akan se-dahsyat ini.

Siti Khadijah RA adalah orang pertama yang percaya ketika semua orang menolak. Beliau menghabiskan seluruh kekayaannya untuk mendanai dakwah saat umat Islam di-boikot secara ekonomi.

Siti Aisyah RA adalah intelektual muda yang hafal ribuan hadits dan menjadi rujukan hukum para sahabat. Beliau membuktikan bahwa wanita harus memiliki kapasitas intelektual yang tajam untuk menjaga kemurnian ilmu agama.

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ ...

"Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya..." (QS. Al-Ahzab: 32)

Istri-istri Nabi diberi standar keshalihan yang lebih tinggi karena mereka adalah role model bagi peradaban. Mereka tidak hanya diam di rumah, tapi aktif membangun opini umum tentang Islam.


Kerja Sama dalam Dakwah

Kita hidup untuk saling menguatkan dalam dakwah. Laki-laki dan perempuan punya peran strategis masing-masing untuk memastikan kalimat Allah tetap berkibar.

Saat ini, seringkali peran istri diremehkan sebagai "perbudakan domestik". Banyak wanita muslimah yang merasa minder dengan perannya sebagai istri dan ibu, lalu memilih mengejar karir luar rumah yang sebenarnya hanya menjadikan mereka sekrup sistem. Mereka kehilangan visi bahwa rumah tangga itu sebenarnya adalah "markas" perjuangan.

Istri-istri Nabi membuktikan bahwa dari balik tembok rumah tangga yang syar'i, bisa lahir perubahan dunia yang luar biasa.


Teladan Abadi

Khadijah RA membuktikan bahwa penguasaan ekonomi wanita seharusnya dipakai untuk membela dakwah, bukan untuk sombong. Aisyah RA membuktikan bahwa wanita adalah penjaga gerbang ilmu.

Karir tertinggi seorang muslimah adalah menjadi arsitek peradaban lewat jalur apa pun yang Allah ridai.

Setiap tetes pengorbanan seorang istri untuk suaminya yang berjuang di jalan Allah akan mendapat balasan setara dengan perjuangan suaminya itu sendiri. Khadijah mendapat salam langsung dari Allah dan malaikat Jibril karena kesetiaannya.

Jika kamu wanita, jadilah "Khadijah Modern" yang siap membela dakwah dengan harta dan cintamu. Jadilah "Aisyah Modern" yang cerdas intelektualnya dan tajam analisis hukumnya. Jika kamu laki-laki, muliakan wanitamu sebagaimana Rasulullah SAW memuliakan istri-istrinya. Jadikan dia partner diskusi, bukan sekadar pajangan.

Perjuangan Islam butuh kerjasama tim yang harmonis antara laki-laki dan perempuan sesuai fitrahnya.


Kisah-kisah wanita hebat telah kita pelajari. Sekarang, mari kita beralih ke sosok-sosok sahabat laki-laki yang loyalitasnya tak tergoyahkan, dimulai dari Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam