Skip to content

78. Ratu Balqis: Dari Ego Menuju Ketundukan

Apakah kecerdasan dan kekuasaan membuatmu sulit tunduk pada kebenaran?


Pernah merasa "paling pintar" dan paling berkuasa atas hidupmu sendiri? Kamu punya karir cemerlang, pendidikan tinggi, dan orang-orang mendengarkan kata-katamu. Kamu merasa kesuksesanmu adalah hasil dari kerja kerasmu sendiri. Terkadang kesombongan halus ini membuat kita sulit "tunduk" pada aturan agama.

Ratu Balqis adalah pemimpin negeri Saba' yang menyembah matahari. Beliau punya sistem musyawarah yang canggih dengan para pembesarnya.


Pertemuan dengan Kebenaran

Balqis adalah ratu yang cerdas dan berpengaruh. Ketika menerima surat dari Nabi Sulaiman AS, beliau tidak langsung marah atau mengajak perang. Beliau menggunakan strategi diplomatik untuk menguji Sulaiman.

Namun ketika beliau melihat kemegahan istana Sulaiman yang didasari ketaatan pada Allah, beliau sadar bahwa kecerdasannya selama ini hanya dipakai untuk menyembah makhluk (matahari).

قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَنَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

"...(Balqis) berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri (Aslamtu) bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam'." (QS. An-Naml: 44)

Balqis tidak merasa gengsi mengakui kesalahan ketika menemukan kebenaran. Beliau meruntuhkan tahta egonya demi sujud pada Sang Pencipta.


Hukum Tertinggi

Kita hidup bukan untuk menjadi penguasa atas diri kita sendiri, tapi untuk menundukkan segala kapasitas intelektual dan kekuasaan kita di bawah otoritas Allah.

Saat ini, kita sering terjebak dalam keyakinan bahwa kesepakatan manusia adalah hukum tertinggi. Banyak yang pandai berpolitik tapi buta terhadap kebenaran. Terjebak dalam musyawarah-musyawarah yang hanya untuk memuaskan syahwat kekuasaan.

Transformasi Balqis mengajarkan kita bahwa puncak kecerdasan adalah saat kita sadar bahwa hukum Allah-lah yang paling adil. Beliau tidak malu "melepaskan" kedaulatan pribadinya demi kedaulatan Syariat.


Tanggung Jawab atas Karunia

Setiap kecerdasan yang Allah berikan akan diminta pertanggungjawabannya: dipakai untuk membela kebenaran atau untuk mencari dalih kemaksiatan?

Balqis mendapat posisi mulia karena memilih hidayah di saat beliau punya segala alasan untuk sombong. Kebijaksanaan yang kita pakai untuk tunduk pada Allah akan menjadi penyelamat kita.

Periksa egomu sekarang. Apakah kamu tipe orang yang sulit dibilangin saat salah hanya karena merasa lebih pintar atau lebih senior? Berhentilah jadi orang sombong. Belajarlah dari Ratu Balqis: berani mengakui salah dan berani mengubah arah hidupmu saat menemukan kebenaran yang lebih kuat.

Jadilah orang yang cerdas, yang visinya luas, tapi tetap sujud di hadapan Allah.


Ratu Balqis telah tunduk pada kebenaran. Sekarang, mari kita melihat peran istri-istri Nabi sebagai penyangga perjuangan Islam: para Ummul Mukminin.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam