51. Nasionalisme: Sekat yang Memecah Belah
Mengapa cinta tanah air bisa menjadi penghalang persatuan?
Dari kritik sistem politik yang mengklaim memberikan kedaulatan, kita beralih ke sesuatu yang lebih dekat dengan identitas kita: nasionalisme yang seringkali mengaburkan ikatan yang lebih besar.
Pernahkah kamu merasa aneh, kita disuruh cinta mati sama tanah air yang batas-batasnya sebenarnya dibuat oleh penjajah lewat perjanjian meja bundar?
Kita diajarkan kalau "Negara Gue Nomor Satu", dan kalau ada saudara semuslim di belahan dunia lain dizalimi, kita bilang "itu kan urusan dalam negeri mereka, bukan urusan kita".
Kita tersekat oleh garis imajiner bernama paspor dan bendera.
Inilah yang namanya Nasionalisme: Sebuah ikatan yang kelihatannya mulia, tapi sebenarnya adalah sekat yang bikin kekuatan umat Islam jadi kerdil.
Ikatan Jahiliyah
Nasionalisme dalam Islam disebut sebagai 'Ashabiyah (fanatisme kelompok/kesukuan). Nabi Muhammad SAW sudah dengan tegas melarang kita membangun ikatan berdasarkan keturunan, ras, atau wilayah.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa..." (QS. Al-Hujurat: 13)
Perhatikan: Allah bikin kita berbeda-beda itu buat saling mengenal, bukan buat saling membedakan secara diskriminatif atau saling merasa lebih hebat.
Strategi Pecah Belah
Sistem dunia hari ini sangat berkepentingan buat menjaga nasionalisme tetap hidup di negeri-negeri muslim.
Kenapa? Biar umat Islam tidak pernah bersatu lagi.
Selama kita masih sibuk membela "kepentingan nasional" masing-masing, para penjajah bisa dengan mudah merampok kekayaan umat satu per satu.
Mereka biarkan Palestina dibantai, mereka biarkan Rohingya diusir, dan kita cuma bisa diam karena kita merasa itu "bukan urusan negara kita".
Pertanggungjawaban Persaudaraan
Setiap sikap kita terhadap penderitaan saudara se-akidah akan ditanya.
Di hadapan Allah, paspor kita tidak akan ditanya. Yang ditanya adalah: "Kenapa kamu diam saat saudaramu dibantai?"
Perasaan persaudaraan yang tulus adalah investasi buat mendapatkan perlindungan Allah di hari yang sangat panas nanti.
Refleksi
Buang jauh-jauh mentalitas rasis dan nasionalis sempit. Jangan bangga cuma karena kamu warga negara tertentu.
Banggalah karena kamu adalah bagian dari umat Muhammad SAW yang satu. Jadilah pribadi yang peduli sama isu umat secara global.
Doakan, bantu, dan perjuangkan agar sekat-sekat yang memisahkan kita segera runtuh.
Nasionalisme memecah fisik kita. Sekarang, mari kita lihat bagaimana "Ghazwul Fikri" atau Perang Pemikiran merusak cara berpikir kita dari dalam.