Skip to content

82. Utsman bin Affan: Harta yang Mengalir untuk Kebaikan

Bagaimana menggunakan kekayaan untuk perubahan yang bermakna?


Pernah berpikir bahwa "punya banyak uang" itu akan merusak iman? Kita sering melihat orang kaya yang hartanya hanya dipakai untuk pamer kemewahan, beli properti mewah, atau bahkan dipakai untuk membeli hukum dan kekuasaan. Banyak dari kita yang takut jadi kaya karena merasa harta itu fitnah.

Tapi dalam sejarah, ada sosok "billionaire" yang sanggup membeli satu sumur untuk kebutuhan rakyat, membiayai seluruh pasukan perang, tapi tetap menjadi orang yang paling pemalu di hadapan Allah.


Pengusaha yang Tawadhu

Itulah Utsman bin Affan.

Utsman bin Affan adalah pengusaha sukses yang seluruh hartanya didedikasikan untuk mendukung berdirinya Daulah Islam. Beliau tidak menggunakan kekayaannya untuk pamer atau membangun dinasti pribadi.

Ketika umat Islam di Madinah kesulitan air, beliau membeli sumur dari orang Yahudi dan membuatnya gratis untuk seluruh warga.

... وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ...

"... Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah..." (QS. Al-Baqarah: 272)

Utsman sadar bahwa kekuasaan politik dan dakwah butuh "bensin" finansial yang kuat. Beliau tidak pelit mengeluarkan modal untuk proyek-proyek strategis umat—seperti perluasan Masjid Nabawi dan pengumpulan Mushaf Al-Quran.


Kekayaan sebagai Alat

Kita hidup untuk menggunakan segala potensi materi yang kita punya sebagai alat untuk membela agama Allah, bukan untuk menumpuk aset di bawah bantal.

Saat ini, kita sering melihat budaya "filantropi korporasi" yang seringkali hanya untuk mengurangi pajak atau menutupi kejahatan korporasi. Mereka memberi sumbangan kecil ke rakyat, tapi merebut sumber daya alam triliunan lewat aturan yang zalim.

Filantropi mereka tidak didasari rida Allah, tapi didasari strategi pemasaran. Kesenjangan tetap lebar, dan yang kaya makin berkuasa atas nasib orang miskin.


Integritas hingga Akhir

Utsman membuktikan bahwa pengusaha muslim seharusnya menjadi "ATM Dakwah." Beliau tetap hidup sederhana meskipun hartanya melimpah. Beliau rela meninggal dalam keadaan dizalimi demi menjaga persatuan umat Islam agar tidak terjadi perang saudara.

Sebagai muslim, kita harus punya cita-cita jadi kaya materi tapi tetap "miskin" ego.

Setiap rupiah yang kita dapat dan kita infakkan akan ditimbang secara presisi. Utsman mendapat jaminan surga lewat lisan Nabi SAW berkali-kali karena kedermawanannya. Harta Utsman yang beliau wakafkan di dunia bahkan kabarnya tabungannya masih "mengalir" sampai hari ini dalam bentuk aset-aset di Madinah.

Periksa tabunganmu sekarang. Berapa persen yang sudah kamu alokasikan untuk kebaikan? Jangan cuma jadi orang yang modal "semangat" doang tapi pelit saat disuruh iuran. Belajarlah cara cari duit yang halal dan berkah selevel Utsman. Jadilah pengusaha yang pinter manajemennya tapi lembut hatinya.

Dunia butuh lebih banyak "Utsman Modern" yang siap menanggung beban finansial umat.


Utsman telah menunjukkan kedermawanannya. Sekarang, mari kita melihat keberanian dan kecerdasan Ali bin Abi Thalib.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam