Skip to content

71. Luqman Al-Hakim: Kurikulum Pendidikan Tauhid & Adab

Bagaimana cara mendidik anak dengan penuh hikmah dan akhlak?


Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau sekolah itu cuma sibuk ngajarin kita cara buat pinter tapi lupa ngajarin kita cara buat bener?

Kita diajarin matematika, fisika, dan bahasa biar bisa dapet kerja bagus, tapi kita nggak pernah diajarin gimana caranya ngebangun integritas diri.

Kita jadi generasi yang pinter secara IQ tapi jongkok secara karakter.

Tapi dalam Quran, ada satu sosok bijak bernama Luqman Al-Hakim, yang bahkan bukan seorang Nabi, tapi nasehat-nasehatnya diabadikan Allah sebagai kurikulum pendidikan terbaik.


Fondasi Tauhid & Anti-Syirik

Pelajaran pertama dalam kurikulum Luqman bukan soal karir, tapi soal Akidah.

Beliau nanamkan pada anaknya kalau dosa paling besar itu adalah Syirik (menyekutukan Allah).

Kenapa? Karena syirik bikin manusia jadi budak sesama makhluk dan kehilangan jati dirinya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar'." (QS. Luqman: 13)


Kompas Moral

Luqman sadar kalau anak punya akidah yang bener, dia bakal punya "kompas" moral yang nggak bakal goyah.

Beliau juga nanamkan kesadaran kalau Allah itu Maha Melihat segalanya, sekecil apapun perbuatan kita.

Pelajarannya: kita hidup buat nyembah Allah secara murni, dan pendidikan itu tujuannya buat jagain kemurnian itu di tengah gempuran ideologi masa kini.


Realitas Kecerdasan tanpa Adab

Sistem dunia hari ini seringkali memuja kecerdasan tanpa adab.

Mereka bilang "yang penting pinter dan sukses, soal akhlak itu urusan masing-masing".

Hasilnya? Muncul ilmuwan yang pinter tapi nggak punya etika, pengusaha yang sukses tapi ngerendahin orang lain, dan anak muda yang berani ngebantah orang tuanya atas nama "kebebasan ekspresi".

Mereka memisahkan antara ilmu dan adab. Pendidikan cuma jadi ajang pamer kecerdasan otak, bukan kemuliaan hati.

Kurikulum Luqman ngajarin anaknya adab berbicara (nggak boleh teriak-teriak), adab berjalan (nggak boleh sombong), dan perintah buat amar ma'ruf nahi munkar.

Sebagai muslim, kita harus pinter tapi tetep santun, sukses tapi tetep rendah hati.

Jangan mau jadi "orang pinter yang nyebelin". Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.

Pendidikan Islam pengen nyetak individu yang punya keseimbangan antara ketajaman otak dan kelembutan adab.


Akuntabilitas Pendidikan

Setiap nasehat yang kita kasih ke adik atau anak kita bakal dicatat sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai pemimpin.

Di hadapan Allah, kita nggak bakal ditanya "berapa nilai matematika anakmu?", tapi Allah bakal nanya: "Apakah kamu sudah ngajarin anakmu buat nggak nyembah selain Aku? Apakah kamu sudah ngajarin dia buat sholat dan sabar?"

Keberhasilan Luqman mendidik anaknya adalah bukti kalau "Ilmu Hikmah" itu kuncinya ada pada ketaatan.


Refleksi

Audit "Kurikulum Pribadimu" sekarang!

Apakah kamu lebih sibuk belajar hard skill tapi lupa belajar adab dan akhlak?

Berhentilah jadi orang yang sombong karena kepintaranmu! Belajarlah buat berbicara dengan lembut, berjalan dengan tenang, dan tetep konsisten dalam kebenaran.

Jadilah manusia yang punya karakter Luqman: bijak dalam berpikir, santun dalam berucap, dan kokoh dalam berakidah.


Kurikulum Luqman sudah jelas. Sekarang, mari kita lihat gimana pamer harta bisa ngerusak jiwa lewat kisah Dua Pemilik Kebun.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam