Skip to content

33. Nabi Musa AS (Kelahiran): Keberanian Seorang Ibu di Tengah Kengerian

Seberapa jauh kamu rela pergi untuk melindungi yang kamu sayangi?


Pernahkah kamu merasa terjepit antara pilihan yang sama-sama menakutkan?

Antara melindungi yang kamu sayangi atau menuruti perintah yang terdengar mustahil? Bayangkan menjadi seorang ibu di zaman Fir'aun, di mana setiap detik hidup adalah ancaman, dan setiap napas bayi laki-laki bisa menjadi yang terakhir.


Kelahiran di Tengah Genosida

Nabi Musa AS lahir di zaman Fir'aun, seorang penguasa yang memerintahkan pembantaian semua bayi laki-laki Bani Israil demi mengamankan kekuasaannya.

Ketakutan bukan lagi sekadar perasaan — ia sudah menjadi udara yang dihirup setiap hari.

Di tengah situasi mencekam ini, datang perintah yang terdengar gila: hanyutkan bayimu sendiri ke sungai.

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي ۖ إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الرُّسُلِ

"Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: 'Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai. Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah pula bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para rasul.'" (QS. Al-Qashash: 7)

Ibu Nabi Musa AS menghadapi dilema yang tak bisa dibayangkan: percaya pada janji Allah yang mustahil secara logika, atau pasrah pada ketakutan yang rasional.

Beliau memilih menghanyutkan bayinya dengan tangan sendiri — bukan karena tidak sayang, tapi karena sayangnya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

Keberanian ini bukanlah keberanian tanpa rasa takut, melainkan keberanian yang justru lahir dari rasa takut yang ditundukkan oleh kepercayaan.


Hikmah di Balik Ketakutan

Yang menakjubkan, bayi yang dihanyutkan itu justru dipungut oleh keluarga Fir'aun sendiri.

Musa AS tumbuh di istana musuhnya, mendapat pendidikan terbaik, dan perlindungan justru dari tangan yang ingin menghancurkannya.

Allah memang punya cara yang tak pernah terbayangkan oleh manusia.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa ketakutan seringkali membentuk penjara dalam pikiran kita. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut dihakimi — sehingga kita memilih diam saat melihat ketidakadilan.

Padahal, keberanian untuk bertindak meski takut adalah benih dari setiap perubahan besar dalam sejarah.


Keberanian dalam Keseharian

Setiap kali kita memilih untuk berdiri tegak meski gemetar, setiap kali kita memilih bicara jujur meski suara bergetar, kita sedang mengikuti jejak Ibu Nabi Musa AS.

Keberanian tidak selalu berarti tidak takut — keberanian adalah memilih untuk tetap melangkah meski takut.

Di mana kita menemukan keberanian seperti itu? Di dalam kepercayaan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertindak dengan benar, meski jalannya terlihat gelap.


Bayi Musa sudah di istana Fir'aun. Sekarang, bagaimana seorang bayi yang tumbuh di lingkungan mewah bisa tetap menyadari darah dan asal-usulnya?

Mari kita lihat dilema Musa AS saat harus memilih antara kenyamanan istana dan panggilan untuk membela kaumnya yang tertindas.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam