Skip to content

70. Keluarga Imran: Menyiapkan Generasi Pembebas

Bagaimana menyiapkan generasi pembebas melalui pendidikan keluarga?


Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau kamu itu cuma "produk" dari lingkungan yang sekular?

Kamu dididik buat jadi karyawan yang baik, konsumen yang patuh, dan warga negara yang nggak banyak tanya.

Kita sering ngerasa kalau keluarga itu cuma tempat buat numpang makan dan tidur doang.

Banyak orang tua yang cuma pengen anaknya "sukses dunia", tapi lupa buat nyetak anak yang punya jiwa besar.

Tapi dalam Quran, ada satu keluarga yang namanya diabadikan sebagai nama surah (Ali Imran) karena mereka punya standar pendidikan yang kuat bahkan sejak anak itu masih dalam kandungan.


Nadzar buat Allah

Istri Imran (Hana) pengen banget punya anak. Pas beliau hamil, beliau nggak berdoa "Ya Allah, jadikan anakku ganteng dan kaya".

Beliau bikin janji ideologis: beliau meniatkan anaknya buat jadi pelayan agama Allah yang bebas dari segala kepentingan duniawi.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"(Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui'." (QS. Ali 'Imran: 35)


Konsistensi dalam Pendidikan

Pas Hana melahirkan anak perempuan (Maryam), beliau tetep konsisten sama janjinya.

Beliau serahin pendidikan Maryam ke Nabi Zakariya AS di tempat suci.

Maryam dididik dalam lingkungan yang steril dari virus syubhat dan penuh dengan ketaatan.

Hasilnya? Maryam jadi wanita paling suci yang akhirnya melahirkan Nabi Isa AS, sang pembebas Bani Israil dari belenggu materialisme.

Ini ngasih pelajaran: kita hidup buat menyiapkan generasi yang bakal ngebela kebenaran sampai akhir zaman.


Realitas Pendidikan "Sekrup Industri"

Sistem dunia hari ini ngajarin orang tua buat ngebebasin anaknya milih jalan hidup sendiri tanpa panduan wahyu.

Mereka bilang "jangan dipaksa beragama, biarkan dia cari jalannya sendiri".

Hasilnya? Banyak anak yang tersesat di rimba sekularisme karena nggak punya fondasi akidah yang kuat.

Pendidikan cuma jadi alat buat nyetak "sekrup" di mesin industri. Anak-anak cuma diajarin cara nyari duit, tapi nggak diajarin cara nyari ketenangan hati.

Keluarga Imran membuktikan kalau mau punya generasi selevel nabi atau pembebas, maka visi pendidikannya harus jelas sejak awal.

Orang tua harus punya "ideologi" dalam mendidik anak.

Sebagai muslim, kita harus sadar kalau anak adalah amanah buat dipersembahkan kepada Allah, bukan buat dipersembahkan kepada perusahaan multinasional atau popularitas semu.


Akuntabilitas Keluarga

Setiap cara kita mendidik anak atau adik kita akan ditanya dampaknya.

Di hadapan Allah, kita bakal ditanya: "Kemana kamu bawa generasimu? Apakah kamu cuma sibuk beliin mereka gadget mahal tapi lupa nanamkan cinta pada Quran?"

Keberhasilan Hana mendidik Maryam adalah investasi yang pahalanya terus mengalir sampai kiamat.

Keluarga yang sukses adalah keluarga yang dikumpulkan bersama kembali di surga karena mereka satu visi dalam kebaikan.


Refleksi

Milikilah visi "Keluarga yang Berkontribusi"!

Kalau kamu sudah berkeluarga, jadikan rumahmu sebagai pusat pembinaan karakter.

Kalau kamu belum berkeluarga, carilah pasangan yang punya visi serupa.

Jangan cuma cari yang "cakep" atau "mapan", tapi cari yang siap diajak ngebangun generasi pembebas.

Jadikan setiap anak yang lahir dari rahimmu sebagai "peluru" buat ngebela kebenaran.


Keluarga Imran sudah nyetak Maryam. Sekarang, mari kita lihat kurikulum pendidikan yang diajarkan oleh Luqman Al-Hakim: Kombinasi antara keimanan dan adab.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam