Skip to content

44. Nabi Isa AS: Keseimbangan Material dan Spiritual โ€‹

Bagaimana menyelamatkan ruh di tengah godaan materi?


Dari keberhasilan Zakariya AS dalam mendidik generasi penerus, kita beralih ke misi Nabi Isa AS yang datang untuk membersihkan ajaran dari pemahaman yang terlalu kaku dan materialistik.

Pernahkah kamu merasa hidup kita dinilai hanya dari apa yang kita punya? Seberapa mahal ponsel kita, seberapa keren mobil kita, atau seberapa banyak saldo tabungan kita.

Kita terjebak dalam "penjara materi" yang bikin kita lupa bahwa kita punya ruh. Standar sukses kita sudah bergeser menjadi standar materialistik yang kaku.

Ribuan tahun lalu, kaum Bani Israil pernah mengalami penyakit mental yang sama: mereka sangat pinter urusan hukum agama tapi hampa secara spiritual dan sangat gila materi. Kepada merekalah Nabi Isa AS diutus.


Mukjizat yang Mendobrak Logika โ€‹

Nabi Isa AS lahir tanpa ayah. Ini adalah tamparan keras bagi mereka yang hanya percaya pada "hukum sebab-akibat" materi.

Allah ingin menunjukkan bahwa Allah-lah Sang Pemilik Segala Hukum, termasuk hukum biologi.

Isa AS datang dengan pesan kasih sayang, kesederhanaan, dan ketaatan yang tulus, bukan cuma sekadar formalitas hukum yang kaku.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุขุชูŽุงู†ููŠูŽ ุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจูŽ ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู†ููŠ ู†ูŽุจููŠู‘ู‹ุง

ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽู†ููŠ ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู‹ุง ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ู…ูŽุง ูƒูู†ุชู ูˆูŽุฃูŽูˆู’ุตูŽุงู†ููŠ ุจูุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ูˆูŽุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉู ู…ูŽุง ุฏูู…ู’ุชู ุญูŽูŠู‘ู‹ุง

"Berkata Isa: 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup'." (QS. Maryam: 30-31)

Isa AS membuktikan bahwa ketaatan itu harus ada ruhnya. Sholat dan zakat bukan cuma gerakan dan angka, tapi bentuk pengabdian hamba kepada Tuhannya.


Materialisme dan Konsumerisme โ€‹

Sistem dunia modern adalah puncak dari materialisme. Mereka ingin kita jadi "budak belanja" yang haus akan validasi benda.

Mereka membuat kita merasa tidak "berharga" jika tidak punya barang bermerek. Hasilnya? Krisis kesehatan mental, kecemasan, dan hampa makna hidup.

Nabi Isa AS menunjukkan bahwa kemuliaan itu ada pada kesederhanaan dan ketaatan.

Beliau tidak punya rumah mewah, beliau tidak punya tabungan melimpah, tapi beliau punya kuasa untuk menyembuhkan penyakit dan menghidupkan yang mati dengan izin Allah.

Setiap detik yang kita habiskan untuk mengejar dunia akan ditanya nilainya di hadapan Allah.

Di akhirat nanti, Allah tidak akan melihat seberapa banyak barang yang kamu punya, tapi Allah akan melihat seberapa bersih hatimu dari penyakit cinta dunia.

Nabi Isa AS akhirnya diangkat Allah ke langit dan akan turun lagi di akhir zaman untuk menghancurkan fitnah Dajjalโ€”simbol puncak materialisme dan kebohongan.


Refleksi โ€‹

Jangan jadi "zombie materialisme". Hidupmu jauh lebih berharga dari sekadar gadget atau jabatan.

Belajarlah hidup sederhanaโ€”bukan berarti miskin, tapi dunia ada di tanganmu, bukan di hatimu.

Gunakan materimu untuk kebaikan, bukan untuk sombong. Jadilah orang yang punya "ruh" dalam setiap langkahnya.


Perjuangan para nabi sudah mencapai puncaknya. Sekarang, mari kita lihat sosok "Utusan Terakhir" yang akan merombak total seluruh kebatilan dan membangun komunitas kebaikan yang pertama: Nabi Muhammad SAW.

Dibuat dengan โค๏ธ untuk umat Islam