Skip to content

73. Kaum Luth Modern: Menghadapi Normalisasi Penyimpangan

Bagaimana menyikapi penyimpangan moral yang dianggap normal?


Pernah ngerasa dunia sekarang itu makin "terbalik" standar moralnya?

Apa yang dulu dianggap salah, sekarang dianggap benar. Apa yang dulu dianggap menjijikkan, sekarang dianggap sebagai "pilihan hidup" yang harus dihormati.

Kita hidup di zaman normalisasi penyimpangan, di mana perilaku yang ngerusak fitrah manusia dipromosikan lewat film, musik, kurikulum sekolah, sampai aturan hukum global.

Kita sering dibilang "intoleran" kalau kita tetep berpegang pada nilai keagamaan.

Tapi ribuan tahun lalu, Allah sudah ngasih peringatan keras lewat kehancuran total sebuah kaum yang juga ngerasa kalau penyimpangan mereka adalah kemajuan.


Perusakan Fitrah Secara Massal

Kaum Nabi Luth AS adalah kaum pertama dalam sejarah yang ngelakuin penyimpangan orientasi seksual secara kolektif.

Mereka bukan cuma ngelakuin secara privat, tapi mereka bangga dan maksa orang lain buat nerima itu sebagai norma.

Pas Nabi Luth AS ngingetin, mereka malah mau ngusir Luth karena beliau dianggap "orang yang sok suci".

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَن قَالُوا أَخْرِجُوهُم مِّن قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

"Jawab kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan: 'Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri'." (QS. Al-A'raf: 82)


Membalikkan Kebenaran

Pas kejahatan fitrah sudah dianggap normal, maka orang-orang yang bener justru bakal dianggap sebagai musuh.

Mereka pengen kita semua "kotor" bareng mereka agar mereka nggak ngerasa bersalah.

Pelajarannya: kita berasal dari Tuhan yang nyiptain manusia berpasang-pasangan sesuai fitrah biologis, maka segala upaya buat ngerubah fitrah itu adalah bentuk pemberontakan terhadap Sang Pencipta.


Realitas "Agenda" di Balik Normalisasi

Sistem dunia hari ini sering pake narasi "Hak Asasi" buat ngelindungi perilaku yang sebenernya ngerusak institusi keluarga dan kelanjutan generasi manusia.

Mereka pengen kita percaya kalau orientasi seksual itu cair.

Hasilnya? Hancurnya moralitas anak muda, meledaknya penyakit menular, dan hilangnya makna sakral dari pernikahan.

Mereka memisahkan kebebasan dari tanggung jawab kepada Allah.

Sebagai muslim, kita harus berani punya sikap tegas.

Kita nggak boleh diem aja pas fitrah manusia diacak-acak atas nama toleransi palsu.

Toleransi itu menghargai orang, tapi bukan melegalkan kemaksiatan yang ngerusak peradaban.

Kita harus jagain keluarga kita, adik kita, dan komunitas kita dari virus pemikiran yang ngerusak fitrah ini.


Akuntabilitas Moral

Setiap dukungan kita terhadap penyimpangan, meskipun cuma sekadar "like" di medsos atau diem pas ngelihat kemungkaran, akan ditagih pertanggungjawabannya.

Kaum Luth dihancurkan dengan hujan batu dan buminya dibalikkan oleh Allah.

Itu adalah pesan abadi kalau Allah nggak bakal biarin bumi ini hancur gara-gara manusia yang lebih rendah moralnya dari hewan.

Di akhirat nanti, para penyebar penyimpangan bakal nanggung dosa kolektif dari orang-orang yang mereka sesatkan.


Refleksi

Jangan mau di-gaslighting sama narasi yang merusak!

Cinta sejati itu cinta yang diredai Allah.

Berhentilah jadi penonton yang pasif. Edukasi dirimu tentang bahaya ideologi yang ngerusak fitrah.

Jadilah manusia yang punya prinsip, yang nggak malu buat bilang kalau maksiat itu tetep maksiat meskipun seluruh dunia bilang itu keren.

Jaga kesucian pergaulanmu.


Penyimpangan moral sudah kita bahas. Sekarang, mari kita lihat gimana konsistensi dalam menyebarkan kebenaran harus tetep dijaga meskipun tantangannya berat lewat kisah Ashabul Qaryah.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam