Skip to content

34. Nabi Musa AS (Istana): Hidup Nyaman versus Panggilan Hati

Pernahkah kamu merasa nyaman dengan kehidupanmu saat ini — pekerjaan yang stabil, lingkungan yang aman, masa depan yang terencana — tapi ada sesuatu di dalam hati yang terus berbisik bahwa ada yang salah?


Kamu melihat ketidakadilan di sekitar, tapi kamu juga tahu bahwa bicara akan mengganggu kenyamanan yang sudah kamu bangun begitu susah payah.

Di situlah letak dilema sejati: bukan memilih antara baik dan buruk, tapi memilih antara nyaman dan benar.


Kehidupan di Menara Gading

Musa AS tumbuh sebagai "pangeran Mesir". Ia punya segala yang bisa diimpikan siapa pun: pendidikan terbaik, kekayaan, status, dan keamanan.

Tapi di balik tembok istana yang megah, ada kebenaran yang tak bisa dihindari: kaumnya, Bani Israil, sedang menderita. Mereka diperbudak, disiksa, dan diinjak harga dirinya.

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

"Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Qashash: 14)

Yang membuat Musa AS berbeda adalah kemampuannya untuk tidak membiarkan kemewahan membutakan hatinya. Ia tidak pernah merasa "lebih tinggi" dari kaumnya meski hidup di istana.

Empatinya tetap hidup, dan nuraninya tetap peka terhadap ketidakadilan.


Titik Balik

Suatu hari, Musa AS melihat seorang Bani Israil dipukul oleh seorang Mesir. Tanpa pikir panjang, ia membela orang yang tertindas itu — dan tanpa sengaja, ia menewaskan si penindas.

Dalam sekejap, hidup nyamannya hancur. Ia bukan lagi pangeran; ia menjadi buronan.

Tapi justru dari situlah perjalanan sejatinya dimulai. Musa AS memilih untuk meninggalkan Mesir, meninggalkan segala kenyamanan, demi menyelamatkan nuraninya.

Ia memilih menjadi buronan yang bebas dalam hatinya daripada pangeran yang terpenjara oleh kesunyian.


Harga Kenyamanan

Seringkali, kita memaafkan diri sendiri untuk diam demi kenyamanan.

"Ini bukan urusanku," "Aku punya tanggung jawab lain," "Satu orang tidak bisa mengubah apa-apa."

Tapi di balik alasan-alasan itu, ada ketakutan yang kita sembunyikan.

Musa AS mengajarkan bahwa hidup yang bermakna tidak ditemukan di dalam zona nyaman, tapi di dalam keberanian untuk mengikuti suara hati — meski suara itu membawamu ke jalan yang sulit.

Apa yang sedang kamu diamkan demi menjaga kenyamananmu? Apa yang kamu tolak lihat demi tidur nyenyak di malam hari?

Dan apakah kenyamanan itu benar-benar membahagiakanmu, atau justru membuatmu semakin hampa?


Musa sudah meninggalkan istana dan Mesir. Sekarang ia berada di padang pasir Madyan, jauh dari segalanya.

Tapi justru di sana, di titik terendahnya, ia akan dipanggil untuk kembali — bukan sebagai buronan, tapi sebagai utusan Allah yang akan menghadapi Fir'aun secara langsung.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam