74. Ashabul Qaryah: Konsistensi Menyampaikan Kebenaran
Bagaimana tetap konsisten menyampaikan kebenaran meski ditolak?
Pernah ngerasa kalau kamu lagi "ngomong sama tembok" pas ngajak orang ke kebaikan?
Kamu sudah pake cara paling lembut, sudah kasih argumen paling logis, tapi orang itu tetep aja nolak, ngeremehin, bahkan marah sama kamu.
Kita seringkali ngerasa "gagal" pas dakwah kita nggak ada yang dengerin. Kita pengen cepet-cepet liat hasil.
Kita jadi gampang nyerah dan mutusin buat berhenti bicara.
Tapi dalam Quran, ada kisah tentang sebuah penduduk kota yang didatangi bukan cuma satu, tapi tiga utusan sekaligus, tapi mereka tetep aja mendustakannya.
Strategi Penguatan Dakwah
Allah ngutus dua orang rasul ke kota itu, tapi penduduknya nolak.
Lalu Allah kuatkan dengan rasul ketiga. Mereka bertiga nyampaikan pesan yang sama dengan satu visi yang solid.
Tapi penduduk kota itu malah ngeluarin ancaman klasik: "Kalian ini cuma bikin sial kami!"
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami'." (QS. Yasin: 18)
Fokus pada Tugas, Bukan Hasil
Para utusan itu nggak berhenti cuma gara-gara diancam bakal dirajam.
Mereka tetep teguh karena mereka tahu kalau tugas mereka cuma Al-Balaghul Mubin (menyampaikan dengan terang), bukan nentuin hasil akhir.
Ini pelajaran penting: kita hidup buat menjadi "corong" kebenaran Allah, nggak peduli orang mau denger atau nggak.
Kewajiban kita adalah usaha, bukan hasil.
Realitas Budaya "Hasil Instan"
Sistem dunia hari ini ngajarin kita buat jadi generasi yang gila hasil.
Kalau ngelakuin sesuatu nggak ada hasilnya (profit/followers), ya mending berhenti.
Mereka nanamkan mentalitas "Short-Cut".
Hasilnya? Banyak orang yang ngaku berjuang tapi gampang "pindah jalur" pas pesannya dirasa nggak laku di pasar opini publik.
Mereka mulai ngerubah-rubah isi ajaran agama agar lebih "diterima" sama masyarakat.
Inilah bentuk pengkhianatan terhadap misi yang murni.
Kisah Ashabul Qaryah juga nyeritain tentang seorang pria dari ujung kota (Habib An-Najjar) yang dateng dengan berlari-lari buat ngebela para utusan itu.
Beliau bukan siapa-siapa, tapi beliau punya keberanian buat bicara benar meskipun akhirnya beliau dibunuh oleh penduduk kota itu.
Sebagai muslim, kita harus punya Mentalitas Maraton.
Kita harus konsisten nyuarain kebenaran meskipun tantangannya makin berat. Jangan mau didikte sama "apa yang dimau pasar", tapi kita harus teguh sama "apa yang dimau Allah".
Akuntabilitas Lisan
Setiap kata kebenaran yang kita ucapkan akan jadi saksi pembela kita.
Penduduk kota yang sombong itu akhirnya dihancurkan Allah dengan satu suara keras yang mematikan.
Sementara si pria yang dibunuh karena ngebela kebenaran langsung dapet ucapan selamat dari penduduk langit: "Masuklah ke surga!"
Inilah kemenangan yang hakiki.
Di akhirat nanti, Allah nggak bakal nanya "berapa juta orang yang ikut kamu", tapi Allah bakal nanya: "Apakah kamu tetep bicara benar pas semua orang nyuruh kamu diam?"
Refleksi
Jangan gampang burnout dalam menyebarkan kebaikan!
Kalau postingan edukasimu sepi engagement, tetep posting! Kalau ajakanmu sholat ditolak temen, tetep ajak!
Tugasmu cuma nyampein, bukan ngasih hidayah.
Jadilah manusia yang punya stamina panjang. Perjuangan butuh orang-orang yang nggak gampang "patah arang" cuma gara-gara ditolak manusia.
Ingat, satu Habib An-Najjar sudah cukup buat bikin Allah bangga sama sebuah kota.
Konsistensi sudah kita pelajari. Di artikel berikutnya, kita akan melihat sosok wanita paling suci yang dapet kehormatan luar biasa di tengah fitnah yang keji: Maryam AS dan True Honor.