Skip to content

20. Nabi Idris AS: Integritas Ilmu dalam Peradaban

Bagaimana ilmu pengetahuan seharusnya berfungsi dalam hidup manusia?


Di era serba digital ini, kita sering merasa belajar cuma buat dapat gelar, IPK tinggi, atau biar profil LinkedIn kelihatan bagus. Ilmu pengetahuan sering dianggap sebagai "tiket" masuk ke dunia kerja—alat untuk eksploitasi alam demi kepentingan materi.

Tapi ribuan tahun lalu, ada sosok yang membuktikan bahwa ilmu yang paling canggih sekalipun harus tetap punya arah yang jelas.


Sang Pelopor Intelektual

Nabi Idris AS dikenal sebagai manusia pertama yang menulis dengan pena, menjahit pakaian, dan mempelajari dasar-dasar astronomi serta matematika. Di saat peradaban lain masih sangat primitif, beliau sudah membangun fondasi kemajuan teknokratis.

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا . وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

"Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris yang tersebut di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (QS. Maryam: 56-57)

Kata "Makaanan 'Aliyya" (tempat yang tinggi) bukan cuma soal derajat spiritual, tapi juga menunjukkan ketinggian kapasitas intelektual yang beliau bangun. Beliau membuktikan bahwa menjadi hamba Allah yang taat bukan berarti anti-sains. Justru iman bisa mendorong seseorang untuk menjadi terdepan dalam ilmu pengetahuan.


Menghubungkan Ilmu dengan Makna

Sistem pendidikan modern sering memisahkan sains dari pertanyaan makna. Kita belajar hukum-hukum alam tanpa diajak berpikir tentang Siapa yang menetapkan hukum tersebut.

Nabi Idris AS menunjukkan pola berpikir berbeda: meneliti bintang-bintang bukan untuk meramal nasib, tapi untuk memahami keagungan Penciptanya. Menulis bukan untuk validasi manusia, tapi untuk menyebarkan kebaikan. Ilmu menjadi alat untuk memimpin, bukan sekadar menjadi buruh dalam sistem yang tidak bertanggung jawab.


Tanggung Jawab atas Ilmu

Ilmu yang kita pelajari hari ini akan menjadi pertanyaan kelak: apakah ilmu kodingmu, ilmu ekonomimu, atau ilmu medismu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, atau justru untuk mendukung ketidakadilan?

Manfaat dari ilmullah yang akan membawa nilai, bukan sekadar gelar akademik.


Refleksi

Jadilah ahli di bidangmu—insinyur, dokter, ekonom, programmer—tapi pastikan ada prinsip yang menuntun pekerjaanmu. Jadikan setiap baris kode yang kamu ketik, setiap desain yang kamu rancang, sebagai kontribusi untuk hal-hal yang membangun.

Ilmu tanpa arah bisa jadi berbahaya, tapi ilmu dengan integritas bisa mengubah dunia.


Peradaban mulai dibangun dengan ilmu. Tapi kemudian muncul ujian besar: bagaimana bertahan saat lingkungan sekitar justru menentang kebenaran? Kisah selanjutnya akan membawa kita ke seorang nabi yang berdakwah selama ratusan tahun di tengah kaum yang menolak keras.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam