Skip to content

12. As-Siyadah (Kedaulatan): Mengapa Hukum Harus dari Allah?

Siapa yang berhak menentukan aturan hidup kita?


Pernah nggak sih kamu merasa bingung dengan aturan yang berlaku? Kadang hukum berubah-ubah tiap pergantian pemerintahan. Kadang yang berkuasa membuat kebijakan yang jelas-jelas menguntungkan kelompoknya sendiri. Di tengah keraguan ini, banyak orang mencari standar yang kokoh—sesuatu yang tidak goyah karena kepentingan pribadi atau politik.

Di sinilah kita perlu bertanya: sebenarnya, siapa yang punya hak mutlak untuk membuat aturan main di dunia ini?


Hak Membuat Hukum (At-Tasyri')

Dalam Islam, ada konsep fundamental yang menjadi pilar penting: kedaulatan dalam menetapkan hukum hanya milik Allah SWT.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Keputusan (hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 40)

Ayat ini menegaskan sesuatu yang sering terlupakan: Allah-lah Satu-satunya yang berhak menetapkan apa yang halal dan haram, apa yang benar dan salah.

Tapi kenapa harus dari Allah? Karena Allah adalah Pencipta yang paling tahu "jeroan" manusia. Dia yang menciptakan hati, jiwa, dan akal manusia. Manusia terbatas—dipengaruhi kepentingan pribadi, nafsu, suasana hati yang berubah-ubah, bahkan tekanan politik dan ekonomi. Kalau manusia membuat hukum tanpa petunjuk Ilahi, biasanya ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dikorbankan.


Keadilan Tanpa Pandang Bulu

Banyak sistem hukum di dunia yang tampak adil di atas kertas. Tapi dalam praktiknya, seringkali hukum justru memperkuat ketimpangan. Si kaya bisa membeli pengacara terbaik, sementara si miskin terjebak dalam jeratan hukum. Politik seringkali mempengaruhi keputusan pengadilan.

Menyerahkan hak membuat hukum sepenuhnya kepada manusia bisa menjadi celah untuk ketidakadilan. Sementara itu, hukum dari Allah tidak pandang bulu—tidak membedakan kasta, ras, atau status sosial. Hukum Allah datang dari Sumber yang Maha Mengetahui, Maha Adil, dan Maha Bijaksana.

Tentu saja, ini bukan berarti menolak semua hukum duniawi. Tapi ini tentang prioritas dasar—mana yang menjadi standar tertinggi dalam hidup kita. Ketika standar tertinggi sudah jelas, menjadi lebih mudah untuk menavigasi dilema-dilema hukum yang kompleks.


Akuntabilitas atas Hukum yang Diikuti

Setiap aturan yang kita ikuti di dunia ini akan menjadi pertanyaan kelak: apakah kita lebih takut melanggar hukum buatan manusia atau hukum Allah? Di saat keduanya bertabrakan, manakah yang kita utamakan?

Ini bukan soal fanatisme, tapi soal integritas. Kita hidup di dunia yang penuh dengan tekanan untuk berkompromi dengan nilai-nilai kita. Tapi di ujung nanti, kita akan berdiri sendiri di hadapan Sang Pencipta.


Refleksi

Tanyakan pada dirimu: apa dasar dari pilihan-pilihanmu? Apakah karena semua orang melakukannya, atau karena ada prinsip yang lebih dalam?

Mencari standar yang kokoh bukan berarti kaku atau tidak fleksibel. Tapi berarti punya kompas yang jelas di tengah badai. Kompas yang tidak berubah meski angin berembus dari segala arah.

Hukum sudah jelas sumbernya. Tapi bagaimana aturan mainnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam urusan ekonomi dan keuangan? Mari kita lihat lebih dalam di pembahasan berikutnya.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam