37. Nabi Musa dan Khidir AS: Ketika Rencana Allah Tidak Masuk Akal
Pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa hal buruk terjadi pada orang baik?
Kenapa doa-doa yang kamu panjatkan dengan sungguh-sungguh belum juga terkabul? Atau kenapa jalan hidupmu berliku-liku padahal kamu sudah berusaha menjadi orang yang baik?
Kita sering merasa "tahu" apa yang terbaik untuk diri kita.
Tapi kisah pertemuan Musa AS dengan Khidir AS mengajarkan bahwa ada "balik layar" dalam setiap kejadian yang kita tidak bisa lihat — dan seringkali, itu justru yang terbaik untuk kita.
Perjalanan Mencari Ilmu
Musa AS adalah nabi yang sangat berilmu.
Tapi suatu hari, ia bertemu seseorang yang mengatakan bahwa ada ilmu yang bahkan Musa belum ketahui.
Penasaran, Musa AS memohon untuk mengikuti orang ini — Khidir AS — untuk belajar.
Dalam perjalanan mereka, Khidir melakukan hal-hal yang terlihat tidak masuk akal:
- Melubangi kapal orang miskin
- Membunuh anak muda yang tidak berdosa
- Memperbaiki tembok rumah orang pelit tanpa meminta bayaran
Musa AS tidak bisa menahan diri untuk protes.
قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا
"Khidir berkata: 'Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.'" (QS. Al-Kahfi: 78)
Baru ketika perpisahan tiba, Khidir membuka tabir di balik setiap tindakannya:
- Kapal dilubangi agar tidak dirampas raja zalim
- Anak dibunuh karena akan menjadi durhaka dan membawa malapetaka
- Tembok diperbaiki karena ada harta anak yatim tersembunyi di bawahnya
Melampaui Penglihatan Kita
Yang terlihat sebagai kejahatan ternyata adalah perlindungan.
Yang terlihat sebagai kerugian ternyata adalah investasi. Yang terlihat sebagai ketidakadilan ternyata adalah kasih sayang yang menyamar.
Musa AS, dengan segala ilmunya, tidak bisa melihat "gambaran besarnya."
Ia hanya melihat apa yang ada di depan matanya: lubang di kapal, nyawa yang hilang, usaha tanpa imbalan.
Tapi Khidir AS — yang diberi ilmu khusus oleh Allah — melihat apa yang akan terjadi lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan beberapa generasi kemudian.
Belajar Menerima
Kisah ini bukan berarti kita harus pasrah dan tidak berusaha.
Tapi ini mengingatkan kita untuk berhenti merasa bahwa kita "tahu lebih baik" daripada Sang Pencipta.
Kadang, rencana kita gagal karena ada rencana yang lebih baik menunggu. Kadang, pintu tertutup karena ada jalan lain yang lebih aman. Kadang, kita harus kehilangan sesuatu untuk diselamatkan dari sesuatu yang lebih buruk.
Sabar bukan berarti pasrah tanpa tindakan.
Sabar adalah melakukan yang terbaik, lalu mempercayakan hasilnya kepada Allah — meski hasilnya belum terlihat, meski jalannya berliku, meski logika kita menolak untuk mengerti.
Jadi, ketika hidup memberimu "plot twist" yang tidak kamu mengerti, ingatlah kisah ini.
Mungkin, di balik kejadian yang kamu protes saat ini, ada "kapal yang sedang dilubangi" demi keselamatanmu di masa depan.
Musa AS sudah belajar tentang hikmah dan kepercayaan pada takdir Allah.
Tapi tantangan terbesar belum berakhir. Setelah perjuangan panjang, kaumnya sendiri — Bani Israil — akan menguji kepemimpinannya dengan sebuah peristiwa yang mengguncang: penyembahan patung sapi emas.
Mari kita lihat bagaimana Musa AS menghadapi krisis ini.