09. Penciptaan Ruh: Perjanjian di Alam Sebelum Dunia
Kenapa kita merasa ada yang "kurang" meski sudah punya segalanya?
Pernah nggak sih kamu merasa ada sesuatu yang "klik" saat mendengar azan?
Atau tiba-tiba merasa damai saat melihat langit malam yang cerah, meski nggak tahu kenapa?
Itu bukan kebetulan. Banyak orang merasakan hal serupa—seperti ada bagian dari diri kita yang mengenali sesuatu yang lebih besar dari dunia ini.
Perjanjian yang Terlupakan
Al-Quran menceritakan sebuah peristiwa di Alam Ruh, di mana seluruh manusia pernah berkumpul sebelum dunia diciptakan:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi'..." (QS. Al-A'raf: 172)
Bayangkan: di suatu tempat dan waktu yang tidak kita ingat, kita pernah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita.
Fitrah: Setting Awal Manusia
Ayat ini menjelaskan sesuatu yang dalam tentang diri kita. Ruh kita punya default setting untuk mengenal Allah—yang dalam Islam kita sebut Fitrah.
Manusia secara naluri tahu ada Kekuatan Besar yang menciptakannya, sebelum lingkungan dan pengalaman hidup menimbun naluri tersebut.
Itulah kenapa:
- Anak kecil secara spontan akan mengarahkan tangannya ke langit saat meminta sesuatu
- Orang yang mengaku tidak percaya pada Tuhan pun, saat menghadapi situasi ekstrem, seringkali secara naluri memanggil sesuatu yang "di Atas"
- Ada rasa "klik" saat kita mendengar kebenaran—seperti ingatan lama yang bangkit kembali
Melawan Pandangan Duniawi
Ada pandangan modern yang mengatakan manusia lahir seperti kertas kosong (tabula rasa), bebas menentukan segalanya sendiri.
Tapi pengalaman banyak orang menunjukkan hal berbeda: ada kecenderungan alami untuk mencari makna, untuk bertanya tentang asal usul dan tujuan hidup.
Ketika kita merasa "ada yang kurang" meski secara materi sudah cukup, itu mungkin adalah fitrah yang mencoba menyuarakan dirinya kembali.
Menyambung Kembali
Kesadaran akan perjanjian ini mengubah cara kita memandang ibadah.
Sholat bukan sekadar ritual—itu adalah cara untuk "re-charge" dan mengingat kembali kesaksian yang pernah kita ucapkan.
Setiap kali merasa tersesat atau hampa, itu adalah sinyal bahwa ada bagian dari diri kita yang haus akan koneksi dengan Sang Pencipta.
Refleksi
Kenali sinyal-sinyal dari dalam dirimu.
Saat merasa ada yang "kurang" meski secara materi sudah cukup, mungkin itu saatnya untuk menyambung kembali. Jaga agar batinmu tetap bersih dari hal-hal yang bisa membuatmu lupa siapa Penciptamu.
Ruh sudah ada dan berjanji. Sekarang, bagaimana proses keajaiban biologi yang membentuk fisik kita?
Mari kita lihat tahapan penciptaan manusia dalam rahim.