65. Qarun: Hustle Culture Gone Wrong
Bagaimana menghindari jebakan kesombongan dalam hustle culture?
Pernah ngerasa kalau hidup kamu itu cuma soal "ngejar setoran"?
Kerja keras 24/7, pusing mikirin investasi, sampai nggak punya waktu buat istirahat apalagi buat ibadah.
Kita hidup di zaman yang memuja Hustle Culture—budaya yang bilang kalau kamu belum kaya, berarti kamu kurang kerja keras.
Kita sering liat para "Billionaire" jadi panutan yang kata-katanya ditelen mentah-mentah.
Tapi ribuan tahun lalu, ada seorang "Crazy Rich" bernama Qarun yang saking banyaknya harta, kunci-kunci gudangnya aja harus dipikul sama banyak orang kuat, tapi akhirnya dia ditelen bumi.
Kesombongan Intelektual-Materi
Qarun dulunya adalah kaum Nabi Musa AS yang miskin, tapi Allah kasih dia kekayaan luar biasa.
Pas diingetin buat bersyukur dan gunain hartanya buat kebaikan, Qarun malah keluarin argumen yang sangat familiar: "Gue dapet semua ini karena ilmu dan kerja keras gue sendiri!"
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي ...
"Qarun berkata: 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku'..." (QS. Al-Qashash: 78)
Lupa Sang Pemberi
Qarun kena penyakit Kibr (sombong) karena beliau ngerasa dialah yang paling pinter nyari duit.
Beliau lupa kalau Allah-lah Sang Pemilik Rezeki. Beliau pamer kemewahan buat bikin orang-orang beriman jadi minder.
Ini pelajaran penting: kita dan segala fasilitas materi yang kita punya adalah "pinjaman" dari Allah, bukan murni hasil kehebatan kita.
Realitas Siapa yang Berkuasa atas Harta
Sistem dunia hari ini sering nanamkan narasi kalau "siapa yang pinter, dia yang berkuas atas harta".
Mereka ngilangin peran Tuhan dari ekonomi. Mereka bikin kita ngerasa kalau harta itu standar kemuliaan.
Hasilnya? Masyarakat yang rakus, pelit, dan suka nindas yang lemah lewat sistem riba dan monopoli.
Mereka pikir dengan kekayaan, mereka bisa beli segalanya. Mereka lupa kalau "bumi" yang mereka pijak itu punya Allah, dan sewaktu-waktu Allah bisa "menelan" semua peradaban materi mereka.
Menjadi muslim berarti punya standar hidup yang Zuhud.
Zuhud bukan berarti miskin, tapi dunia ada di tanganmu, bukan di hatimu. Kamu kerja keras buat berkontribusi, bukan buat sombong.
Harta itu amanah buat ngebantu sesama, bukan buat ngebangun tembok keangkuhan yang memisahkan kita dari masyarakat.
Akuntabilitas Harta
Setiap sen yang kita dapet akan ditanya prosesnya.
Kita hidup buat menggunakan materi sebagai alat transportasi menuju surga, bukan tujuan akhir.
Qarun ditelan bumi bareng seluruh hartanya. Nggak ada yang bisa nyelametin dia, termasuk ilmu "bisnis"-nya yang dia banggain itu.
Di akhirat nanti, harta yang nggak dizakati dan dipake buat maksiat bakal berubah jadi api yang membakar pemiliknya.
Refleksi
Audit asetmu sekarang! Apakah HP mahalmu bikin kamu makin baik atau malah makin rajin pamer?
Apakah ilmumu dipake buat nyari keberkahan atau cuma buat nyari validasi dunia?
Berhentilah jadi budak Hustle Culture yang ngerampok waktu ibadahmu.
Jadilah manusia yang kaya hati dan kaya aksi buat sesama.
Ingat, rejeki itu titipan, jangan sampe yang "numpang lewat" di tanganmu malah bikin kamu celaka.
Qarun adalah contoh kegagalan karena sombong. Sekarang, mari kita lihat gimana keteguhan akidah para pemuda bisa ngalahin maut sekalipun lewat kisah Ashabul Ukhdud.