86. Dunia: The Playground: Hidup Cuma Level Persinggahan
Seberapa nyatakah realitas yang kita pikir permanen?
Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau hidup ini kayak game yang nggak ada tamatnya? Kita sibuk ngejar skor (harta), sibuk leveling up (karir), dan sibuk nyari item langka buat dipamerin. Kita sering ngerasa kalau dunia ini adalah realitas yang permanen. Kita ngerasa kalau kita bakal hidup selamanya di sini. Tapi, tahukah kamu kalau dalam pandangan Allah, seluruh dunia beserta isinya ini cuma "Level Tutorial" atau bahkan cuma sekadar "Taman Bermain" yang sebentar lagi bakal ditutup? Mari kita bedah hakikat dunia.
Permainan yang Melalaikan (The Illusion of Permanence)
Allah SWT berkali-kali ngingetin di Quran kalau dunia ini cuma senda gurau dan permainan (la'ibun wa lahwun). Ia bukan tempat tinggal, tapi tempat meninggal. Ia bukan destinasi, tapi cuma transit.
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِ ...
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak..." (QS. Al-Hadid: 20)
Pas kamu lagi main game, kamu tahu kalau poin yang kamu dapet nggak bisa dipake buat beli makan di dunia nyata. Begitu juga dunia: semua kemewahan materi nggak bakal bisa dibawa pas kamu pindah ke "Real World" (Akhirat). Kita sedang menuju sebuah realitas yang abadi, maka nggak logis kalau kita habis-habisan di tempat persinggahan tapi malah "kere" di tempat tujuan utama.
Real Talk: Kapitalisme & Budaya "Dunia-Sentris"
Sistem dunia hari ini (Kapitalisme) pengen kita percaya kalau dunia ini adalah segalanya. Mereka nanamkan gaya hidup YOLO (You Only Live Once). Mereka pengen kita nikmatin hidup sepuasnya tanpa mikirin dosa atau pahala. Hasilnya? Muncul masyarakat yang depresi pas kehilangan materi, rakus pas punya kekuasaan, dan hampa jiwanya karena nggak punya orientasi langit. Mereka bikin kita lupa kalau ada hari pertanggungjawaban. Dunia cuma dijadiin ajang "pamer skor" tanpa ada ruh pengabdian.
Menjadi muslim berarti harus punya Mindset Traveler. Kita nikmatin fasilitas dunia secukupnya buat bekal perjalanan, tapi fokus kita tetep ke tujuan akhir. Kita harus sadar kalau dunia ini adalah medan ujian (Darul Ibtila'). Kita kerja keras bukan buat numpuk harta, tapi buat ngebangun peradaban Islam agar kita punya "bekal" yang banyak pas menghadap Allah. Jangan sampe kita jadi orang yang "menang" di tutorial tapi "game over" di realitas yang sebenarnya.
Akuntabilitas Waktu
Setiap detik yang kita habiskan di taman bermain ini akan diaudit. Kita berasal dari Allah dan dikasih "modal" waktu di dunia. Di hadapan Allah, kita bakal ngerasa kalau hidup di dunia itu cuma kayak "sepagi atau sesore" doang. Semua drama yang kita alamin hari ini bakal kerasa kecil banget pas kita sudah liat dahsyatnya hari kiamat.
💡 Refleksi untuk Diri: Audit fokus hidupmu sekarang! Apakah pikiranmu 90% isinya urusan dunia (duit, jodoh, gaya) dan cuma 10% urusan akhirat? Berhentilah jadi orang yang terobsesi sama perhiasan dunia yang fana! Belajarlah buat hidup sederhana tapi bervisi besar. Gunakan duniamu buat ngebela agama Allah. Jadilah pemuda yang kakinya menapak di bumi, tapi pikirannya melayang di Arasy. Ingat, dunia ini cuma panggung sandiwara, jangan sampe kamu lupa siapa sutradara dan siapa penonton sejatinya. Dunya is a bridge, not a house.
Dunia sudah kita pahami hakikatnya. Tapi ada satu momen transisi yang nggak bisa dihindari oleh siapapun—saat semua permainan dunia harus berhenti dan kita harus menghadapi realitas yang sebenarnya. Mari kita lihat momen transisi yang paling menegangkan bagi setiap makhluk.