32. Nabi Ayyub AS: Menghadapi Loss dengan Iman
Bagaimana tetap tegar saat kehilangan segalanya?
Pernahkah kamu merasa "habis-habisan" dalam hidup?
Kehilangan orang yang kamu sayangi, kena tipu bisnis, atau merasa sakit fisik yang tidak sembuh-sembuh? Di era yang memuja "kebahagiaan instan" dan hidup yang serba lancar, krisis mental seringkali muncul saat kita tertimpa musibah.
Kita sering bertanya: "Kenapa aku? Kenapa Allah memberikan ini kepadaku?"
Kita merasa hidup ini tidak adil. Tapi, pernahkah kamu mendengar tentang level kesabaran yang benar-benar luar biasa?
Mari kita bedah keteguhan Nabi Ayyub AS.
Kehilangan Total
Nabi Ayyub AS adalah nabi yang sangat kaya raya, punya banyak anak yang saleh, dan dihormati semua orang.
Tapi dalam sekejap, Allah cabut semua itu.
Hartanya ludes, semua anaknya wafat dalam satu hari, dan beliau kena penyakit kulit yang sangat parah sampai semua orang menjauhinya, kecuali istrinya yang setia.
Selama bertahun-tahun, beliau hidup dalam kemiskinan dan rasa sakit yang luar biasa.
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
"Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.'" (QS. Al-Anbiya: 83)
Perhatikan doa beliau: beliau tidak mengeluh, beliau tidak protes "Kenapa saya?". Beliau hanya memuji Allah sebagai Sang Penyayang di tengah rasa sakitnya.
Beliau sadar bahwa semua nikmat itu hanya titipan, dan kalau Pemiliknya mau mengambil lagi, itu adalah hak mutlak-Nya.
Realitas Mentalitas Rapuh
Sistem dunia hari ini mengajarkan kita bahwa kebahagiaan itu identik dengan kesehatan fisik dan kemewahan materi.
Kalau kamu sakit atau miskin, berarti kamu gagal. Hasilnya? Generasi kita jadi mudah patah, mudah depresi, dan mudah menyalahkan Tuhan saat ada masalah kecil.
Kita dididik untuk menjadi "konsumen kebahagiaan", bukan orang yang tangguh.
Nabi Ayyub AS mengoreksi cara berpikir hedonis kita. Beliau membuktikan bahwa kemuliaan itu tidak ada hubungannya dengan saldo ATM atau kulit yang mulus.
Kemuliaan itu ada pada hati yang tetap "sinkron" dengan Allah meskipun badai musibah datang bertubi-tubi.
Pembalasan yang Indah
Kesabaran Nabi Ayyub AS akhirnya dibalas Allah dengan kesembuhan total dan kekayaan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Di dunia saja Allah beri ganti yang lebih baik, apalagi di akhirat nanti. Kesabaran kita hari ini adalah modal utama untuk dapat tempat terbaik di surga-Nya.
Tidak ada satu pun rasa sakit yang sia-sia di hadapan Allah; semuanya dihitung sebagai penghapus dosa dan peninggi derajat.
Tanyakan pada dirimu: seberapa sering kamu mengeluh karena masalah receh?
Belajarlah dari Ayyub: saat kamu mengalami kehilangan, jangan sibuk mencari salah siapa, tapi sibuklah mencari Allah.
Sabar itu bukan berarti diam pasrah, tapi tetap berikhtiar dan tetap berprasangka baik kepada Allah.
Jadilah orang yang punya ketahanan mental luar biasa. Musibah adalah cara Allah untuk "mengupgrade" kapasitas jiwamu.
Ketabahan sudah diuji. Sekarang, mari kita lihat perjuangan politik Nabi Musa AS: dari bayi yang dihanyutkan di sungai Nil sampai menjadi penantang utama tirani Fir'aun.