Skip to content

30. Nabi Yusuf AS (Kekuasaan): Strategi Politik di Tengah Krisis

Bagaimana memimpin saat bangsa sedang dalam keadaan darurat?


Pernahkah kamu merasa bahwa krisis ekonomi atau masalah dunia ini tidak akan ada ujungnya?

Kita sering melihat pemimpin yang hanya pandai "tebar pesona" tapi tidak punya solusi konkret saat krisis melanda. Banyak dari kita yang apatis terhadap politik karena merasa sistemnya sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki.

Tapi kisah sukses Nabi Yusuf AS saat dipercaya menjadi menteri keuangan di Mesir adalah blueprint bagaimana seorang muslim berkuasa: bukan untuk pamer jabatan, tapi untuk menyelamatkan nyawa jutaan orang lewat manajemen yang jenius.


Strategi Lintas Generasi

Yusuf AS menafsirkan mimpi Raja Mesir tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan tujuh sapi kurus — artinya? Akan ada tujuh tahun masa subur diikuti tujuh tahun masa paceklik yang parah.

Yusuf tidak hanya memberi "ramalan", beliau memberi solusi operasional: simpan hasil panen di masa subur untuk cadangan di masa krisis.

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ ۝ ثُمَّ يَأْتِي مِن بَعْدِ ذَٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تُحْصِنُونَ

"Yusuf berkata: 'Supaya kamu bertanam tujuh tahun sebagaimana biasa; maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari bibit gandum yang kamu simpan.'" (QS. Yusuf: 47-48)

Ini adalah manajemen krisis tingkat tinggi. Yusuf AS tidak hanya menunggu bantuan, beliau membangun ketahanan pangan nasional yang mandiri.

Beliau sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi pengelola karena beliau tahu kapasitas dirinya.


Realitas Eksploitasi di Tengah Krisis

Dalam sistem hari ini, krisis seringkali sengaja diciptakan atau dimanfaatkan oleh para spekulan untuk merampok harta rakyat.

Mereka menimbun barang saat langka agar harganya naik drastis. Mereka tidak peduli orang lapar, yang penting profit lancar. Pemimpin seringkali "hilang" saat rakyat butuh solusi nyata, atau hanya membuat kebijakan yang menguntungkan segelintir orang di tengah krisis.

Yusuf AS justru sebaliknya: beliau melakukan distribusi pangan secara adil, transparan, dan tidak pandang bulu — bahkan untuk saudara-saudaranya yang pernah membuang beliau ke sumur.

Kekuasaan Yusuf adalah pengabdian, bukan ajang balas dendam.


Kekuasaan sebagai Amanah

Setiap kebijakan publik yang kita ambil akan ditanya di hadapan Allah.

Di Hari Pembalasan nanti, pemimpin yang adil akan mendapatkan posisi tertinggi.

Yusuf AS membuktikan bahwa berkuasa harus punya dua syarat: amanah dan berilmu. Kekuasaan yang amanah akan menjadi penyelamat di akhirat, sementara kekuasaan yang zalim akan menjadi penyesalan yang tak berujung.

Jangan anti-politik. Dunia butuh pemimpin yang punya kapasitas teknis selevel menteri, tapi punya hati selevel nabi.

Belajarlah ilmu manajemen, ekonomi, dan politik, tapi jangan pernah lepaskan integritas akidahmu. Jadilah orang yang siap memimpin, siap mengelola amanah besar untuk menyelamatkan umat ini dari krisis ideologi dan ekonomi.


Kekuasaan sudah tuntas kita pelajari lewat Yusuf AS. Sekarang, mari kita lihat bagaimana Nabi Syuaib AS menghadapi kaum yang curang dalam timbangan — sebuah isu ekonomi yang sangat relevan dengan praktik perdagangan yang tidak jujur hari ini.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam