Skip to content

61. Habil & Qabil: Saat Ego Ngalahin Hukum Allah

Bagaimana mengalahkan ego dan iri hati sebelum merusak hubungan?


Pernah ngerasa iri sama pencapaian temen atau saudaramu sendiri?

Kompetisi itu wajar, tapi pas rasa iri udah mulai menggerogoti, kita sering ngerasa "berhak" buat ngelakuin apa aja demi menang.

Kisah Habil dan Qabil, anak Nabi Adam AS, hadir sebagai peringatan pertama dalam sejarah manusia tentang gimana ego bisa memicu tragedi paling kelam.


Konflik Dua Persembahan

Allah memerintahkan Habil dan Qabil buat ngasih kurban. Habil, yang tulus, ngasih hasil terbaik dari peternakannya. Qabil, yang penuh kedengkian, ngasih hasil terburuk dari pertaniannya.

Allah nerima persembahan Habil tapi nolak persembahan Qabil.

Bukannya bertaubat, Qabil malah makin marah dan ngancem mau ngebunuh saudaranya.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): 'Aku pasti membunuhmu!'. Berkata Habil: 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa'." (QS. Al-Ma'idah: 27)


Taqwa sebagai Standar

Habil ngingetin kalau standar diterima nggaknya amal itu ada pada Taqwa, bukan pada keinginan pribadi.

Tapi Qabil sudah buta karena egonya. Beliau ngerasa aturan Allah itu nggak adil cuma gara-gara beliau nggak dapet apa yang beliau mau.

Inilah pelajaran klasik: kita hidup buat menundukkan ego kita di bawah hukum Allah, bukan malah ngerubah atau melanggar hukum Allah demi memuaskan ego kita.


Realitas "Follow Your Heart"

Sistem dunia hari ini sering bilang "Follow your heart", "Do whatever makes you happy".

Narasi ini ngajarin kalau "keinginan individu" adalah hak mutlak yang nggak boleh diganggu gugat, bahkan oleh aturan agama sekalipun.

Hasilnya? Muncul budaya kompetisi yang nggak sehat, saling sikut, dan pengkhianatan cuma demi ambisi pribadi.

Tragedi anak-anak Nabi Adam ini membuktikan kalau pas manusia mulai nentuin mana yang baik dan buruk berdasarkan perasaannya sendiri, maka pertumpahan darah dan kezhaliman bakal terjadi.

Qabil akhirnya ngebunuh Habil dan beliau jadi orang yang paling merugi sepanjang masa.

Menjadi muslim berarti berani "menyembelih" ego kita sendiri setiap kali dia bertabrakan sama Syariat.

Kemenangan sejati adalah saat kita berhasil mengalahkan diri kita sendiri demi taat pada Allah.


Akuntabilitas Perbuatan

Setiap tetes darah yang tumpah dan setiap kezhaliman yang lahir dari ego kita akan dimintai pertanggungjawabannya.

Di hadapan Allah, Qabil memikul dosa setiap pembunuhan yang terjadi setelahnya karena beliau yang memulai tradisi jahat itu.

Penyesalan Qabil di dunia nggak ada gunanya pas beliau sudah melanggar batasan suci Allah.

Sebaliknya, Habil yang dizalimi mendapatkan posisi mulia di sisi Allah sebagai syahid pertama.


Refleksi

Seberapa sering kamu kesel pas temenmu lebih sukses atau lebih pinter dari kamu?

Hati-hati sama bibit-bibit "Qabil" di hatimu. Jangan biarkan rasa iri ngerusak hubunganmu.

Belajarlah buat ikut seneng pas saudaramu dapet kebaikan. Jadilah manusia yang punya jiwa besar, yang siap ngebela hukum Allah meskipun itu artinya ego kita harus "kalah".

Ingat, taqwa adalah satu-satunya standar kemuliaan, bukan popularitas atau pengakuan duniawi.


Kisah Habil & Qabil mengingatkan kita soal bahaya iri dan ego. Sekarang, mari kita lihat gimana sekelompok pemuda melakukan perlawanan terhadap sistem yang rusak lewat kisah Ashabul Kahfi.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam