Skip to content

39. Nabi Dawud AS: Kepemimpinan yang Rendah Hati

Bagaimana seorang pemimpin bisa tetap spiritual di tengah kekuasaan?


Setelah perjalanan panjang bersama Nabi Musa AS, kita tiba pada kisah seorang nabi yang membawa dimensi baru: kepemimpinan politik yang tidak lepas dari spiritualitas.

Pernahkah kamu melihat seseorang yang begitu memegang kekuasaan, malah menjadi sombong dan lupa diri? Atau sebaliknya, ada yang memilih menjauh dari dunia politik karena menganggap kekuasaan itu kotor dan jauh dari spiritualitas?

Dunia sering memaksa kita untuk memilih: menjadi orang beriman atau menjadi pemimpin. Seolah keduanya tidak bisa berjalan beriringan.

Tapi kisah Nabi Dawud AS menunjukkan bahwa pilihan itu adalah palsu.


Raja yang Menundukkan Besi

Nabi Dawud AS bukan sekadar nabi, tapi juga raja dengan kekuatan militer dan teknologi canggih di zamannya. Beliau berhasil mengalahkan Jalut saat masih muda, sebuah kisah keberanian yang legendaris. Namun, yang membedakan Dawud AS dari para penguasa lain adalah sikapnya terhadap kekuasaan itu sendiri.

Beliau dikenal sebagai orang yang paling rajin beribadah dan berdzikir. Bahkan, sampai-sampai gunung dan burung ikut bertasbih bersamanya:

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Dawud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): 'Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud', dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba: 10)

Ayat ini menggambarkan harmoni luar biasa antara kekuasaan dan kerendahan hati. Besi yang dilunakkan untuknya bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk bekerja nyata dan menegakkan keadilan.

Dawud AS menyadari bahwa seluruh kekuasaan yang beliau pegang hanyalah titipan. Bukan untuk pamer, bukan untuk menindas, tapi untuk mengabdi.


Politik dan Spiritualitas

Sistem modern sering memisahkan antara politik dan spiritualitas. Mereka mengatakan politik itu urusan dunia, agama itu urusan privat. Hasilnya? Muncul pemimpin-pemimpin yang haus kekuasaan tanpa rasa takut kepada Sang Pencipta.

Nabi Dawud AS menunjukkan cara berpikir berbeda. Beliau membuktikan bahwa pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang paling tunduk kepada Allah. "Besi" (teknologi, militer, sumber daya) harus dibarengi dengan "Zabur" (spiritualitas, hukum Allah).

Sebagai manusia, kita seharusnya punya ambisi untuk memimpin peradaban, tapi dengan niat murni. Jangan biarkan kekuasaan mengubah siapa diri kita di hadapan Allah.

Setiap kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin akan dihisab secara detil. Nabi Dawud AS sangat hati-hati dalam memutuskan perkara, bahkan pernah ditegur Allah karena satu keputusan yang kurang tepat.


Refleksi

Jadilah orang yang punya kapasitas "raja" tapi punya hati "hamba". Pelajari dan kuasai "besi" masa kini—teknologi, ekonomi, ilmu pengetahuan—agar kita bisa memberikan kontribusi yang bermakna.

Tapi jangan pernah biarkan kesibukan dunia membuat kita lupa berdzikir dan beribadah. Jadilah pemimpin yang paling depan dalam berbuat baik, tapi tetap menjadi yang paling rendah hati di hadapan Allah.


Dawud AS sudah meletakkan fondasi kekuasaan yang kuat. Sekarang, mari kita lihat bagaimana putranya, Nabi Sulaiman AS, membawa kekuasaan itu ke level yang belum pernah dicapai siapapun dalam sejarah.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam