Skip to content

43. Nabi Zakariya dan Yahya AS: Warisan Kebaikan

Bagaimana menyiapkan generasi penerus di era kelangkaan orang baik?


Dari kisah Yunus AS yang hampir menyerah, kita belajar bahwa kesetiaan pada tugas akan membawa hasil di luar dugaan. Sekarang kita tiba pada kisah seorang nabi yang tidak pernah menyerah meski dalam kondisi yang tampaknya mustahil.

Pernahkah kamu merasa putus asa melihat kondisi sekitar hari ini? Di mana-mana terjadi kemaksiatan, orang-orang yang peduli dengan kebaikan makin sedikit, dan yang peduli dengan agama itu kayak barang langka.

Kita sering merasa bahwa estafet kebaikan ini akan berhenti di generasi kita karena tidak ada lagi yang mau melanjutkan. Kita merasa "sendirian" dan takut tidak ada penerus.

Tapi ribuan tahun lalu, Nabi Zakariya AS pernah mengalami kekhawatiran yang sama.


Doa untuk Penerus

Nabi Zakariya AS sudah sangat tua, istrinya pun mandul. Secara medis? Mustahil punya anak.

Tapi kekhawatiran beliau bukan soal "siapa yang akan menjaga saya pas tua", tapi soal "siapa yang akan melanjutkan dakwah ini pas saya wafat". Beliau takut jika tidak ada kader yang tangguh, umat akan makin tersesat.

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

"Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku (penerusku) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai'." (QS. Maryam: 5-6)

Ini adalah pelajaran tentang regenerasi. Allah mengabulkan doa beliau dengan lahirnya Nabi Yahya AS—seorang kader yang sejak kecil sudah diberi kekuatan dan ketegasan dalam memegang kitab Allah.


Visi Jangka Panjang vs Egoisme

Sistem dunia sering mengajarkan kita untuk menjadi egois. Muncul tren untuk tidak punya anak cuma karena pengen hidup santai tanpa beban.

Mereka kehilangan visi jangka panjang. Banyak potensi kader-kader masa depan yang tidak terwujud karena orang tuanya lebih memilih kesenangan sementara daripada mendidik generasi.

Nabi Zakariya AS menunjukkan bahwa memiliki keturunan adalah misi besar yang sangat mulia.

Yahya AS dididik untuk menjadi orang yang tidak takut sama siapapun selain Allah. Sebagai manusia, kita harus punya visi "warisan": Apa yang kamu tinggalkan untuk umat ini saat kamu mati?

Setiap anak atau kader yang kita didik akan menjadi timbangan pahala jariyah kita.

Di hadapan Allah, kita akan ditanya: "Bagaimana cara kamu mendidik generasimu? Apakah kamu cuma kasih mereka makan enak tapi lupa kasih mereka nilai-nilai yang kuat?"

Keberhasilan Zakariya mendidik Yahya adalah bukti bahwa tidak ada kata "mustahil" dalam regenerasi selama kita punya niat yang tulus untuk umat.

Yahya akhirnya wafat sebagai syahid, membuktikan kualitas pendidikan Zakariya yang tanpa kompromi.


Refleksi

Jangan cuma sibuk sama karirmu sendiri. Mulailah pikirkan bagaimana cara mencetak kader-kader di sekitarmu—apakah itu adikmu, saudaramu, atau teman kampusmu.

Jadikan setiap interaksimu sebagai sarana pembinaan. Ajarkan mereka kemuliaan nilai-nilai Islam, ajarkan mereka keberanian bicara benar.

Dunia ini butuh banyak "Yahya-Yahya" baru yang akan menggetarkan kezaliman.


Kader sudah siap. Sekarang, mari kita lihat sosok Nabi Isa AS yang lahir tanpa ayah sebagai tantangan bagi logika materialisme yang kaku dan misi beliau meluruskan standar hidup yang terlalu keduniawian.

Dibuat dengan ❤️ untuk umat Islam